TIPOLOGI KRISIS

Dalam kajian ini kita akan mencoba mengupas beberapa hal penting terkait dengan pemahaman krisis perusahaan secara lebih mendalam. Kajian tipologi krisis penting artinya dalam mendefiniskan krisis yang terjadi dalam perusahaan. Dengan definisi yang akurat maka karateristik krisis mampu diketahui dengan baik. Dengan demikian maka manajer mampu melihat secara lebih konkrit krisis yang melanda perusahaan. Hal ini berdampak pada ketepatan dalam pengambilan solusi terhadap krisis yang terjadi.

Kajian tipologi krisis ini akan membahas beberapa hal antara lain, sifat dan jenis krisis, iklim komunikasi saat terjadi krisis, dan elemen-elemen penting saat krisis melanda perusahaan, serta bagaimana pengelolaan komunikasi untuk dapat menciptakan pemahaman yang sama tentang kondisi yang terjadi.

Krisis menurut sifatnya dibagi menjadi dua yaitu:

1. Violent Crisis : krisis yang menyebabkan kerusakan baik itu harta, benda dan manusia, secara langsung. Dalam krisis ini dampaknya bisa langsung dilihat, ditaksir berapa kerugiannya, berapa orang yang menjadi korban, dan bagaimana efeknya terhadap elemen yang terkait lainnya. Contoh dari krisis ini adalah : kebakaran, pengeboman, perang, pencemaran lingkungan, kecelakaan, pencurian, dan lain-lain

2. Non-Violant Crisis : krisi yang tidak menyebabkan kerusakan baik harta, benda dan manusia secara langsung. Dalam krisis ini dampak kerugian baru bisa dilihat dikemudian hari. Artinya apa, kerusakan ataupun kerugian akan dapat dilihat dan ditaksir kerugiaannya setelah beberapa waktu, setelah krisis tersebut terjadi. Dalam beberapa kasus krisis ini seringkali tidak diketahui secara cepat atau bahkan diabaikan dan dianggap bukan merupakan ancaman yang serius bagi perusahaan. Namun, setelah beberapa waktu kemudian, menjadi semakin komplek dan akhirnya berdampak pada aktivitas perusahaan secara luas. Contoh dari krisis ini adalah persaingan bisnis, turun naikknya nilai rupiah, virus komputer, dll

Dari sifat tersebut untuk lebih menajamkan analisa kita terhadap definisi krisi yang terjadi maka dibagi lagi dalam tiga jenis krisis menurut penyebabnya yang sering melanda perusahaan antara lain:

1. Nature : krisis yang diakibatkan oleh ketidakramahan alam. Seperti gempa bumi, kebakaran hutan, tanah longsor, banjir (violant), epidemi penyakit (non-violant)

2. Intensional : Krisis yang terjadi karena disengaja oleh manusia. Dengan demikian, maka saat krisis ini terjadi telah ada rencana dalam membuatnya agar mampu membuat kerusakan atau ketidakstabilan dalam proses aktifitas perusahaan. Seperti aksi terorisme, penyanderaan (Violant), adanya pesaing, rumor negatif, ledakan dan acaman terhadap produk (nonviolent)

3. Unintensional : Krisis yang terjadi yang disebabkan oleh kesalahan teknis, dan bukan merupakan sebuah kesengajaan manusia. Ledakan, kebakaran, kecelakaan (Violent), Kegagalan bisnis, konsekuensi atas penundaan dan permasalahan produk.

Persoalan dalam memberikan solusi terbaik pada saat terjadi krisis tergantung bagaimana seorang pengelola krisis mampu mendefinisikan krisis yang terjadi. Jika krisis tersebut seringkali terjadi berulang atau masalah terstruktur, maka bisa jadi langkah yang diambil relatif lebih mudah. Namun jika permasalah yang muncul adalah masalah yang tidak terstruktur maka diperlukan kejelian dalam melihat permasalahan yang paling mendasari terjadinya krisis.

Menurut Alan Scoot langkah paling baik dalam mengelola krisis adalah antisipasi. ”Whatever organizations you are working in or with , you can predict and thus anticipate most type of crises that are likely to happened, that means you can plan for crises”

Namun seringkali, kita belum sampai pada tataran tersebut dan lebih mengambil langkah penyelesaian setelah krisis telah menjadi sangat serius, akut dan komplek. Nah, jika hal ini yang terjadi tidak salah jika kemudian butuh waktu yang lama dalam menyelesaikannya. Bandingkan jika kita bisa melihat potensi krisis lebih awal dan mengambil langkah antisipasi.

Always think and imagining the worst

Maaf, kalimat diatas bukan berarti kita bersikap pesimis, ataupun selalu berfikir segala sesuatu yang ada dalam aktifitas perusahaan selalu buruk, tidak sama sekali. Namun dengan berfikir kemungkinan terburuk yang akan terjadi maka kesiapan kita dalam langkah-langkah pengelolaan krisis akan mampu terjaga dengan baik. Dengan demikian maka perencanaan awal dalam pengelolaan telah dipersiapkan dengan kreatif dan matang. Hal ini akan mendatangkan nilai positif antara lain:

1. Mengantisipasi agar krisis tidak menjadi besar dan komplek, sehingga mengganggu aktifitas perusahaan.

2. Jika krisis benar-benar terjadi maka akan memperkecil jumlah kerugian yang diderita, baik itu fisik, nama baik, ataupun citra perusahaan.

3. Terjaganya instrument penting perusahaan terhadap dampak krisis.

Walaupun secara teoritis apa yang digambarkan dalam melihat tipologi krisis ini terlihat sederhana, dan tidak rumit. Namun secara praktis, tidak sedikit perusahaan besar yang akhirnya hancur, karena tidak mampu mendefinisikan potensi krisis dengan cermat. Tentu saja hal ini akan menjadfikan perusahaan tidak menyiapkan strategi penanggulangan yang optimal.

About forumkuliah

Dosen, trainer, writer

Posted on January 20, 2009, in Manajemen Krisis. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: