Dehumanisasi & Teknologi

Dalam perkembangan peradapan yang semakin mutakhir seperti saat ini, maka keberadaan teknologi memegang peranan penting dalam meningkatkan taraf hidup manusia. Tekonologi menjadika kehidupan menjadi lebih mudah, bergerak dengan lebih cepar, dan pengeluaran biaya yang lebih murah. Orang asing menyebut teknologi dengan slogan, “easier, cheaper, faster”.

Disadari teknologi merupakan sebuah inovasi karya manusia yang dibuat untuk memberikan kemudahan dalam segala hal. Penggunaan computer dalam pekerjaan misalnya mampu membuat pekerjaan menjadi lebih cepat, lebih sempurna hasilnya karena dilakukan dengan control yang optimal.

Adalah fakta tak terbantahkan, globalisasi terus mengepakkan sayap, menancapkan kuku-kuku dan menghujamkan utopia masa depan yang semakin tanpa batas. Globalisasi tak pernah tuntas dibahas, sebagaimana ditengarai Prof George Lodge dari Harvard Business School: Tak satu pun pakar globalisasi di jagat ini, kecuali mungkin dia utusan dari langit, tuntas bicara tentangnya. Dalam bahasa Ricoeur, globalisasi mencakup surface structure dan deep structure yang tak cukup dibahas secara sekilas.

Karena itu, atas nama kemanusiaan global, kita mesti menempatkan pembicaraan tentang globalisasi dalam kerangka humanisasi. Bagaimana globalisasi yang tak bisa ditolak dan menjadi fakta tak terbantahkan pun tak terbatalkan dapat menumbuhkan aspek-aspek human dignity dan human compassion?

Menurut para ahli sosiologi, perkembangan teknologi telah melahirkan tripartit problem pokok bagi kemanusiaan. Pertama, ia telah melahirkan inequality, yakni problem konfliktual antara kelas-kelas sosial, kasta tinggi dan kasta rendah, kaya dan miskin, yang berkuasa dan yang marginal. Kedua, ia memunculkan pertanyaan menyangkut cohesion, yakni apakah manusia yang makin otonom bisa membentuk komunitas dan merasa bertanggung jawab satu sama lain atau tidak. Ketiga, problem rationalization, suatu pendekatan rasional terhadap penghimpunan pengetahuan, terhadap barang produksi, kontrol atas hidup industrial dan sosial.

Persoalan kesenjangan saat ini telah mulai nampak. Bahwa teknologi telah menyingkirkan fungsi manusia sebagai salah satu faktor produksi yang dominan. Pabrik-pabrik berskala besar lebih memilih memakai mesin dalam melakukan kegiatan produksi dan merumahkan jutaan karyawan dengan alan efisiensi. Kemunculan masyarakat dalam beragam strata sosial yang notabene dipengaruhi oleh kesanggupan dalam mengakses teknologi. Situasi ini membawa dampak dikotomi sosial dalam masyarakat, dimana satu sama lain sering memunculkan konflik.

Persoalan kohesifitas menimbulkan sifat otonom pada individu-individu yang kemudian sangat independen dalam suatu komunitas yang bersifat eksklusif. Pada tataran ini maka pemaknaan fungsi sebgai makhluk sosial menjadi sempit, hanya dibatasi oleh komunitas saja. Hal ini membuat manusia menjadi enggan berhubungan dengan orang lain yang bukan komunitas mereka. Sikap ketidahacuhan terhadap lingkungan berkembang, dan menjadikan fungsi sosialisasi menjadi kurang optimal sehingga rentan terhadap konflik.

Persoalan rasionalisasi mengarah pada persoalan ketergantungan yang besar manusia terhadap teknologi. Hal ini akan menimbulkan dampak kurangnya kontrol sosial terhadap kehidupan individi dan masyarakat. Sehingga terkadang jika kitasmpat berfikir, saat ini kehidupan yang kita jalani selalu diarahkan dan diatur oleh teknologi. Seperti apa kita sangat tergantung dari perkembangan teknologi yang kita akses. Dengan demikian secara tidak sadar, kehidupan yang saat ini kita jalani, sangat tergantung pada teknologi. Artinya apa, ketiadaan teknologi, bisa jadi membuat kita tidak merasa ”hidup”.

Tantangan terbesar dihadapkan kepada kita, bagaimana kita mampu menjadikan globalisasi dan perkembangan teknologi ini sebagai peristiwa manusiawi yang mempunyai dampak bagi “keselamatan”, yakni interkoneksitas dalam hal kesejahteraan, keadilan, perdamaian, dan harmoni di Bumi ini. Kalau demikian, globalisasi lantas menjadi gratia efficient, dampak menyelamatkan bagi setiap insan

Contoh sederhana: Penggunaan teknologi yang memberikan dampak terhadap dehumanisasi individu dan masyarakat antara lain.

Penggunaan e-mail, ataupu sms dalam berkomunikasi dengan orang lain akan merubah gaya seseorang dalam bertutur kata dengan orang lain. Nilai dan etika kesopanan dalam berkomunikasi akhirnya luntur dan tidak banyak lagi digunakan.

Permainan play station atau game online membuat orang (anak) menjadi malas keluar rumah, sibuk dengan dirinya yang seolah-olah adalah pahlawan dalam game yang dia mainkan. Hal ini akan berdampak pada pola sosialisasi mereka dengan lingkungan, interaksi dengan teman, dll. Dan masih banyak kasus penggunaan teknologi yang akhirnya membawa dampak dehumanisasi terhadap individu penggunanya.

About forumkuliah

Dosen, trainer, writer

Posted on January 23, 2009, in Etika Profesi. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. ada maslah juga di ikuti solusi.apakah hal ini juga ada solusinya pk?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: