Teknik Presentasi

Komunikasi antar manusia merupakan problem utama bagi bisnis, industri dan setiap organisasi. Adanya kesalahan komunikasi dapat mengakibatkan kerugian berjuta-juta rupiah. Oleh karena sebagian besar waktu dipergunakan oleh anggota organisasi untuk memotivasi, memberi instruksi, berbicara, dan mendengarkan orang, ketrampilan utama baginya ialah kemampuan berkomunikasi secara efektif.

Beberapa hambatan komunikasi

1. Apabila masing-masing memberi arti yang berbeda terhadap sesuatu hal yang sama (perbedaan persepsi)

2. Hambatan emosi bila ego dan status seseorang terancam

3. Penerima acapkali mendengar apa yang sebenarnya ia harapkan

4. Peserta menilai siapa yang menjadi juru beritanya

5. Perbedaan bahasa atau kata

6. Terlalu banyaknya pesan yang disampaikan seketika, yang masing-masing menuntut perhatian

Alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi hambatan antara lain :

1. Memberikan umpan balik

2. Menggunakan bahasa yang mudah dipahami, jelas, dan sederhana

3. Cara penyampaiannya sistematis dan berstruktur

LANGKAH-LANGKAH DALAM MENYIAPKAN PRESENTASI

1. Menentukan sasaran presentasi

Dalam menentukan sasaran presentasi yang harus diperhatikan ialah:

a. Alasan melakukan presentasi

b. Hasil yang ingin dicapai setelah selesainya presentasi

Hasil yang spesifik akan dapat dicapai apabila :

Dalam cakupan pembahasan

Sesuai dengan pengetahuan dan latar belakang pendengar

Sesuai dengan kemampuan pendengar untuk mengambil tindakan-tindakan

Masuk akal untuk dicapai

2. Menganalisis sidang pendengar

a. Menentukan sasaran para pendengar

b. Analisis khusus pendengar akan membantu menentukan cakupan bahan presentasi

c. Analisis umum pendengar akan membantu menentukan pendekatan yang sesuai

3. Menyiapkan bahan presentasi

a. Bagan presentasi perlu disiapkan sebelum menentukan bahan apa saja yang akan disampaikan. Bagan presentasi ini merupakan “cetak biru” yang berfungsi sebagai kerangka yang akan dikembangkan dalam presentasi

b. Bagan ini merupakan ide pokok atau konsep inti yang harus dikuasai. Bagan presentasi dirumuskan dalam bentuk kesimpulan pendek

c. Untuk masing-masing ide/konsep, tentukan pula fakta atau informasi siapa yang perlu diberikan untuk menunjang ide atau konsep tersebut.

4. Memilih bahan untuk presentasi

a. Menentukan apa dan berapa banyak bahan yang harus dicakup dalam presentasi

b. Sebagai pedoman, perlu dicoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :

(1) Apa maksud presentasi ini ?

(2) Apa saja yang harus dicakup dan apa yang harus dihilangkan ?

(3) Seberapa jauh perincian-perinciannya diperlukan ?

(4) Apa yang harus dikatakan agar tujuan presentasi dapat dicapai?

(5) Bagaimana cara yang terbaik untuk menyampaikannya ?

(6) Tindakan atau tanggapan apa yang diinginkan dari pendengar ?

(7) Kajilah semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas dengan pertanyaan mengapa harus demikian ?

5. Menyiapkan bahan presentasi

a. Format presentasi pada umumnya terdiri dari :

1. Introduksi : perumusan ide

2. Inti : pengembangan ide

3. Kesimpulan : perumusan kembali ide

b. Introduksi dapat dilakukan dengan :

1. Rumusan langsung dari subyek dan pentingnya subyek bagi pendengar

2. Pembukaan secara tidak langsung dengan menunjuk sesuatu hal yang sangat penting bagi pendengar dan mengaitkannya dengan sasaran presentasi

3. Mengambil contoh hidup yang mengarah pada subyek presentasi

4. Mengutip sesuatu hasil riset atau pendapat-pendapat

5. Mengungkapkan data statistik

6. Mengambil cerita atau anekdot yang menggambarkan subyek presentasi

c. Pengembangan ide berarti memberi ilustrasi atau menambah detailnya sehingga ide menjadi semakin berarti dan dapat dimengerti.

d. Kesimpulan, dalam menyimpulkan perlu diperhatikan bahwa kesimpulan yang baik adalah yang memenuhi kondisi :

(1) Merupakan ikhtisar dari ide pokok

(2) Merangsang untuk mengambil tindakan

(3) Merupakan peninjauan terhadap sasaran presentasi

e. Latihan presentasi

Latihan tidak dapat menjamin keberhasilan suatu presentasi. Meskipun demikian latihan dapat :

(1) membantu menambah kepercayaan diri

(2) memberitahu kekurangan-kekurangan dalam bahan

(3) membiasakan diri dengan bahan yang akan disampaikan

(4) membiasakan diri dengan bahan-bahan pembantu untuk lebih menghidupkan presentasi

(5) memudahkan kita untuk memperkirakan pertanyaan-pertanyaan yang akan muncul

PRESENTASI DI HADAPAN SIDANG PENDENGAR

1. Persiapan Ruangan dan Peralatan Presentasi

a. Pengaturan tempat duduk dalam ruangan sangat tergantung dari luas ruangan, jumlah dan macam pendengar, cara presentasi dan seberapa jauh kita mengharapkan adanya partisipasi peserta

b. Berbagai bentuk pengaturan tempat duduk :

(1) Gaya auditorium : peserta banyak dan tidak perlu menulis, waktu singkat

(2) Gaya kelas : formal dan perlu menulis, partisipasi peserta berupa tanya jawab

(3) Gaya informal : kelompok kecil ( < 12 orang ) dan banyak diskusi

(4) Model tapal kuda : kontak antar peserta, diskusi antar peserta secara terbuka dan cukup informal, perlu tulis-menulis

(5) Model kelompok kecil : diskusi dalam kelompok kecil selama presentasi

(6) Model tulang ikan : lebih formal dari model kelompok kecil tetapi tidak seformal seperti di kelas

2. Tehnik Berhadapan dengan Sidang Pendengar

a. Hubungan dengan pendengar

(1) Komunikasi adalah dua arah, ada respon dan umpan balik

(2) Komunikasi tersebut dapat dibantu dengan kontak mata. Kontak ini dapat dilakukan secara wajar dengan memandang mata para pendengar. Kontak semacam ini efektif karena pendengar merasa diperhatikan dan dapat mengembalikan konsentrasi pendengar bila mulai bercabang

(3) Sebagai dasar untuk menjalin hubungan yang efektif dengan pendengar, kita perlu bersikap bahwa presentasi harus disiapkan dan dibawakan secara terang, menarik dan penuh arti dari pihak pendengar, bukan dari pihak pembawa acara.

b. Penggunaan alat-alat presentasi

(1) Sering digunakan mimbar yang bisa dipakai untuk meletakkan catatan-catatan kita, sebagai penompang tangan. Dapat juga berfungsi menjadi semacam penghalang hubungan antara pembicara dan pendengar.

(2) Alat penunjuk sering digunakan, tetapi sebaiknya hanya digunakan bila menunjuk sesuatu di papan tulis. Jangan dipegang apabila tidak digunakan

c. Badan sebagai sarana komunikasi

Penggunaan badan secara efektif ternyata dapat menimbulkan hubungan yang efektif dengan pendengar. Beberapa saran sebagai berikut :

(1) Waktu menuju tempat berdiri/duduk, tidak perlu tergesa-gesa. Tenanglah sementara waktu setelah sampai di tempat, senyum sejenak sambil memandang pendengar sebelum mulai bicara

(2) Cara berdiri/duduk harus menampilkan ketenangan dan percaya diri tanpa menunjukkan ketakutan

(3) Tangan dapat diletakkan dimana saja asal comfortable dan kelihatan wajar.

(4) Gerakan badan dapat membantu mengurangi ketegangan dalam diri kita dan menarik perhatian pendengar

(5) Gerak-gerik tangan dapat memberi arti tertentu , seperti : kepalan tangan ke atas menunjukkan agresif, dll

(6) Ekspresi muka harus menampilkan suasana yang ingin ditimbulkan di antara peserta. Ekspresi muka yang selalu memadai dalam hampir semua presentasi adalah serius, senyum, tertawa, bertanya, ragu-ragu ; tetapi semuanya perlu disesuaikan dengan situasinya

d. Teknik suara

(1) Tinggi nada suara harus persis seperti nada bicara sehari-hari

(2) Intensitas suara tergantung jumlah pendengar, luas ruangan, dan pesan yang ingin disampaikan

(3) Tempo berbicara merupakan faktor penting dalam menentukan efektivitas presentasi

(4) Istirahat sejenak dapat menarik perhatian pendengar pada suatu ide tertentu

(5) Artikulasi kata akan memudahkan pendengar lebih mencurahkan perhatian terhadap arti kata-kata kita

3. Menanggapi Pertanyaan Peserta

a. Tanya jawab pada akhir presentasi adalah kurang tepat karena tanpa pertanyaanpun perhatian sudah ada. Jadi pertanyaan-pertanyaan sebaiknya justru ditimbulkan pada waktu pembicara memasuki bagian pokok dari presentasi

b. Untuk menghindari salah jawab, adalah bermanfaat bila pembicara mengulang pertanyaan pendengar sehingga jelas apa yang dimaksud pendengar.

c. Beberapa pendengar sulit yang memerlukan perhatian istimewa :

(1) Individu yang argumentatif : selalu mengajak berdebat dalam salah satu pokok dan tidak pernah mau mengalah. Bila demikian, berikan pengakuan tersebut dan jangan melibatkan diri dalam perdebatan

(2) Pertanyaan yang penuh isi: biasanya dipakai untuk memojokkan kita. Bila demikian, kembalikanlah pertanyaan tersebut agar dicoba dijawab sendiri

(3) Pertanyaan yang berliku-liku: Kalau kita akan memotong, perlu diusahakan agar ia tidak kehilangan muka.

d. Dalam menanggapi pertanyaan, ada dua hal yang sangat penting untuk dicamkan selalu :

(1) Bila tidak dapat menjawab dengan baik, akuilah bahwa tidak dapat menjawab, atau lemparkan pada orang yang sekiranya dapat menjawab. Jangan menipu !!

(2) Bila perlu waktu untuk menjawab, berhentilah sejenak, betapapun terampilnya penampilan kita dalam presentasi, tetapi bila bahan presentasi tidak bermutu, maka hasil presentasi tidak kalah pentingnya dengan presentasi itu sendiri.

Contoh Kasus :

Pelajaran dari Kota Kecil

Folk Fund Foundation (FFF), sebuah aliansi organisasi-organisasi nirlaba dari sejumlah perusahaan-perusahaan besar trans-nasional menggelar sebuah public tender. Sebagai sebuah Lembaga donor yang memusatkan pada aktivitas pelestarian warisan kebudayaan dan konservasi lingkungan.FFF dikenal telah banyak menjalin mitra dengan sejumlah Organisasi Non Pemerintah (Ornop) dalam menjalankan program-programnya.

Sudah menjadi even tahunan, setiap awal tahun selalu dibuka penawaran bagi sejumlah Ornop untuk mengajukan proposal untuk program konservasi alam dan warisan budaya lokal. Setiap tahun tak kurang dari ribuan proposal masuk mengajukan program kemitraan. Dari ribuan pengaju ini akan dipilih lima lembaga sebagai mitra. Untuk memilih lembaga yang paling baik dan paling layak untuk diterima dan dijadikan mitra, selalu diadakan proses seleksi yang meliputi beberapa tahap.

Tahap pertama dilakukan dengan menyeleksi semua proposal yang masuk. Dari ribuan proposal yang masuk akan diambil seratus proposal yang dinilai layak. Tahap selanjutnya adalah mengkontak pengaju proposal untuk memperbaiki proposalnya kemudian mengikuti tahap seleksi selanjutnya.

Setelah proposal diperbaiki, keseratus proposal tersebut akan diseleksi kembali untuk diambil duapuluh lima proposal untuk kemudian memasuki tahap seleksi akhir berupa presentasi program. Kedua puluh lima lembaga pengaju yang proposalnya terpilih dalam tahap akhir ini diundang untuk melakukan presentasi di sebuah ballroom sebuah hotel mewah berbintang lima.

Semua peserta diberikan kebebasan dan hak yang sama untuk unjuk keunggulan dalam presentasinya masing-masing. Peserta presentasi berasal dari tempat yang beragam dari seluruh penjuru negeri. Ada yang berasal dari kota besar dan sudah maju. Namun ada juga peserta yang mewakili lembaganya yang berkantor Pusat di kota Kecil dan terpencil di pegunungan.

Ketika presentasi, peserta yang berasal dari lembaga yang berpusat di kota besar tampil dengan sangat percaya diri. Semua dokumen yang diperlukan disertakan dalam presentasi. Dengan sangat prigel, presentasi dilakukan dengan menggunakan piranti presentasi yang paling canggih. Bahan-bahan presentasi tidak hanya berujud kertas, namun justru lebih banyak yang berbentuk digital. Tidak hanya data-data tertulis yang disampaikan, data-data dalam bentuk grafik, gambar maupun foto-foto yang telah didesain dengan baik dan menarik menghiasi seluruh presentasinya. Dan tidak lupa presentatornya pun menggunakan pakaian resmi, jas lengkap dengan dasi, melengkapi senyumnya yang lebar yang selalu disunggingkan kepada dewan penilai.

Pemandangan ini sangat kontra dengan peserta-peserta lainnya, terutama yang berasal dari kota-kota kecil. Tampak sekali, mereka tidak siap untk memberikan presentasi yang terbaik. Pakaian yang dikenakan tidak rapi, terkesan kurang necis. Bahan presentasi yang dibawa juga tidak lengkap, hanya sebuah proposal dan beberapa dokumen pribadi. Selebihnya presentasi hanya mengandalkan lisan. Tak terlihat adanya penggunaan beragam medium yang disampaikan dalam presentasinya.

Setelah presentasi usai dilakukan, dewan penilai memberikan penilaian. Hasil penilaian diumumkan di dalam sebuah seremoni yang meriah esok harinya. Dalam seremoni diumumkan lima lembaga mitra yang terpilih sebagai pemenang. Lima lembaga yang terpilih dan tak ada satupun yang berasal dari kota-kota Kecil. Pemenangnya semua berasal dari kota-kota besar.

Sumber : Roger Blackwell, Consumer Behaviour, Woodward, 2001

Pertanyaan :

1. Berikan analisa mengapa tidak ada satupun lembaga non-pemerintah yang berasal dari kota kecil yang lolos dalam seleksi akhir ?

2. Bila anda menjadi wakil dari lembaga peserta dari kota kecil yang harus melakukan presentasi, apa yang kan Anda lakukan ?

B. PIDATO

PENGERTIAN DAN UNSUR PIDATO

a. Pengertian

Adalah penyampaian gagasan, pikiran atau informasi kepada orang banyak secara lisan dengan cara-cara tertentu

Seni membujuk (the art of persuasion), pidato yang baik dan berhasil apabila ia mampu membujuk pendengarnya untuk memahami, menerima, atau mematuhi pesan-pesan yang berupa informasi, ide atau pikirannya.

b. Unsur

Pembicara

Isi pembicaraan

Pendengar

TUJUAN PIDATO

1. Memberitahukan

2. Menghibur atau menyenangkan

3. Membujuk atau mempengaruhi

METODE PIDATO

  1. Metode naskah
  2. Metode menghafal
  3. Metode impromtu atau metode spontanitas
  4. Metode Ekstemporan atau penjabaran kerangka

PERSIAPAN PIDATO

1. Demam panggung

Perasaan resah atau gangguan di lubuk hati manusia yang memerlukan perimbangan tertentu agar berfungsi normal kembali.

Faktor-faktor fisik yang menghambat:

Rasa malu terhadap hadirin

Rasa takut karena hadirin lebih pandai atau lebih tua dan lebih tinggi kedudukannya

Rasa rendah diri, karena merasa belum siap

Rasa grogi dan rasa kekhawatiran yang lain

Pengaruhnya :

Mulut menjadi kering

Lutut gemetar

Tangan gemetar

Jantung berdetak keras

Nafas memburu

Wajah merah dan terasa panas

Suara gemetar dan tidak jelas

Keringat keluar dengan deras

Mata tidak berani melihat hadirin, dan beberapa gejala lainnya

Penyebabnya :

Kurang latihan atau kurang pengalaman dalam penampilan di muka umum

Kurang bergaul dan kurang aktif kurang aktif dalam kehidupan bermasyarakat

Kurang memiliki kemampuan ekspresif, terutama ekspresif lisan

Cara mengusir demam panggung :

Gunakan gerak tubuh seperlunya, jangan terlalu kaku

Jangan hanya memusatkan pikiran pada diri sendiri, melainkan (justru lebih banyak) juga pada masalah yang dibicarakan

Berpeganglah sekedarnya pada mimbar

Kendorkan otot-otot sekitar leher

Anggaplah semua pendengar itu kawan atau “think of audience as friend

Cara mencegah demam panggung :

Memilih topik yang baik (menarik) atau menguasai topik

Membuat persiapan pidato yang matang

2. Persiapan pidato

Menentukan pidato

Memilih dan menyampaikan pokok pidato

Menganalisis pendengar dan suasana

Mengumpulkan bahan

Membuat kerangka atau outline

Menguraikan secara mendetail

Melatih dengan suara nyaring

3. Latihan pidato

A. PELAKSANAAN PIDATO

1. Struktur pidato

a. Pembukaan

Perkenalan diri pembicara

Gambaran umum mengenai isi pidato

Humor sebagai penyegar

Persiapan pikiran pendengar terhadap isi pidato

Ilustrasi yang relevan dengan isi pidato

b. Isi atau uraian

Penjelasan-penjelasan

Alasan-alasan

Bukti-bukti yang mendukung

Ilustrasi-ilustrasi

Contoh-contoh

Angka-angka

Perbandingan-perbandingan

Kontras-kontras

Diagram-diagram

Bagan-bagan

Histogram-histogram

Model-model

Humor yang relevan

c. Penutup

Kesimpulan dari isi pidato

Ajakan

Ramalan masa depan yang berhubungan dengan isi pidato

2. Pembukaan pidato

a. Membuka pidato dengan humor

b. Membuka pidato dengan setengah humor setengah serius

c. Membuka pidato dengan memperkenalkan diri

d. Membuka pidato dengan memperkenalkan diri

e. Membuka pidato dengan memberikan pendahuluan secara umum

f. Membuka pidato dengan menyebutkan fakta dari hadirin

g. Membuka pidato dengan menyebutkan contoh nyata

3. Isi pidato

a. Pendekatan inteleektual

b. Pendekatan moral

c. Pendekatan emosional

4. Penutup pidato

a. Menutup pidato dengan mengemukakan rangkuman atau kesimpulan dari seluruh isi pidato

b. Menutup pidato dengan mengutip kata-kata terkenal, baik berupa motto, kata-kata mutiara, maupun peribahasa

c. Menutup pidato dengan mengemukakan prinsip-prinsip yang terkandung dalam pidato tersebut

d. Menutup pidato dengan mengemukakan cerita singkat yang menarik

e. Menutup pidato dengan mengemukakan pujian kepada hadirin

f. Menutup pidato dengan mengemukakan ajakan

B. TATA KRAMA PIDATO

1. Berpidato di depan umum :

w Berpakaianlah yang rapi, bersih, dan necis, tetapi tidak bergaya pamer dengan memakai perhiasan yang mahal-mahal dan pakaian yang kelewat mewah

w Jangan memperlihatkan kesombongan, keangkuhan atau kepongahan tetapi berpidatolah dengan sopan dan rendah hati

w Berpidatolah dengan kata-kata yang halus meskipun menyalahkan pihak lain

w Apabila pidato agak panjang perlu diselingi humor, sekedar untuk membangkitkan gairah tetapi harus tetap sopan

w Pada akhir pidato sampaikan maaf bila terdapat kekeliruan, atau hal yang tidak berkenan di hati

2. Berpidato di depan wanita

w Lebih berhati-hatilah dalam mengeluarkan ucapan

w Jangan sekali-sekali mengeluarkan kata-kata kasar atau kurang senonoh

w Sebutan bagi kaum wanita umumnya ibu atau saudari

w Dalam setiap kesempatan besarkanlah hati kaum wanita dengan menunjukkan peranannya yang amat penting dalam berbagai bidang

3. Pidato di depan orang terkemuka

w Jangan merasa rendah diri, tetapi percayalah pada diri sendiri

w Sebaliknya jangan sombong, jangan merasa lebih tahu akan segala hal

w Berpidato di hadapan orang terkemuka merupakan kehormatan, karena itu tempatkanlah kehormatan ini pada proporsi yang sebenarnya

w Percayalah pada anggapan bahwa orang-orang yang hadir itu memang akan mendengarkan dan memperhatikan isi pidato karena mereka merasa perlu

w Jangan sekali-kali pidato itu berubah-ubah atau menjurus kepada penerangan yang bersifat memberi kuliah atau bersifat menggurui

4. Berpidato di depan sesama golongan

w Bisa dilaksanakan agak santai, tetapi juga masih tetap memperhatikan tata krama

w Pembicara dapat lebih bebas dalam menganalisis suatu masalah baik yang menyangkut kepentingan golongan maupun kepentingan pihak luar

w Peran pendengar biasanya mudah menerima gagasan atau pendapat yang disampaikan oleh pembicara asal disertai alasan, bukti dan contoh yang masuk akal.

5. Berpidato di depan pemeluk suatu agama

w Jangan sampai menyinggung perasaan keagamaan pendengar

w Harus hati-hati jangan sampai terlontar ucapan yang bisa merugikan martabat dari suatu agama

6. Berpidato di depan pemuda/pelajar

w Harus mengutamakan penalaran karena mereka sudah berpikir kritis

w Harus berusaha agar tidak menentang atau melawan kehendak atau pendapat pendengar secara langsung

w Harus selalu membesarkan hati dan jangan sekali-kali memberondong kritik-kritik saja

w Mampu mengambilkan contoh-contoh dari dunia remaja, menghubungkan dengan tokoh yang menjadi idola remaja dan menyelipkan ragam bahasa remaja

7. Berpidato di depan rakyat desa

w Bisa memanfaatkan hal-hal yang masih diyakini oleh masyarakat desa, seperti : adat istiadat, kegotongroyongan, dan rasa kekeluargaan

w Bisa memanfaatkan kerelaan masyarakat desa untuk berkorban untuk kepentingan umum

w Jangan memberi janji-janji kosong yang tidak dapat ditepati

w Kata-kata yang digunakan haruslah sederhana sehingga mudah dipahami

8. Posisi berpidato

w Harus berdiri agar semua pendengar bisa melihat

w Harus duduk apabila pendengar duduk di lantai

C. DAYA TARIK PIDATO

1. Menyulap topik pidato

Timbulnya perhatian sangat tergantung pada kesesuaian topik itu dengan kepentingan, keinginan, pengalaman dan pengetahuan para pendengar. Topik akan semakin menarik apabila pembicaranya mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai topik itu ditambah dengan serangkaian pengalaman yang sudah dimiliki oleh pembicara.

Cara mempertahankan pendengar : (1) setiap ada kesempatan, pembicara menyisipkan salah satu faktor yang dapat mengendalikan atau menarik perhatian pendengar ; (2) apabila pendengarnya sudah tertarik, maka masukkanlah gagasan-gagasan isi pidato. Pembicara harus tahu bagaimana menghubungkan gagasan –gagasan isi pidato dengan sesuatu yang telah menarik perhatian pendengar.

2. Suara dalam Pidato

Untuk menghindari nada suara yang rendah dan bergetar maka : (1) pembicara harus menenangkan diri sebelum maju ke mimbar ; (2) setelah dapat menenangkan diri dan mengadakan kontak batin dengan pendengar, barulah mulai berbicara, yaitu mengucapkan salam dan sapaan dengan penuh rasa simpatik kepada pendengar ; (3) awalilah pembicaraan anda dengan menyinggung : rasa syukur, kesempatan yang diberikan anda dan apa yang pernah dibicarakan oleh pembicara sebelumnya ; (4) membuka pidato dengan memilih salah satu metode membuka pidato seperti telah dijelaskan di atas

a. Volume suara

Pakailah volume suara yang besar agak mantap dan berwibawa. Bicara dengan agak menunduk bisa memperbesar volume suara

b. Intonasi

Mencakup tekanan (keras lemahnya suatu kata), nada (tinggi rendahnya kata atau frase), tempo (cepat lambatnya suara kata, frase atau kalimat yang diucapkan), serta jeda (perhentian atau saat-saat berbicara lagi)

c. Pelafalan

Mengucapkan kata-kata dengan jelas, enak dan mudah didengarkan sesuai dengan makna dan maksud yang terkandung dalam kata-kata yang diucapkan. Pelafalan harus diperhatikan apabila :

menyebut nama orang, tempat, lembaga, dsb

mengucapkan kata-kata mutiara, peribahasa, dsb

mengutip ucapan orang

mensitir artikel, puisi, dsb

mengucapkan kata-kata yang perlu mendapat perhatian khusus

3. Humor dalam Pidato

a. Relevan dengan masalah yang dibicarakan

b. Sopan

c. Segar artinya bukan ulangan, kalau bisa hasil ciptaan sendiri bukan tiruan

4. Kinesik dalam Pidato

Adalah keseluruhan anggota gerak tubuh yang menyertai orang yang sedang berbicara.

Makna gerak tubuh :

a. Ulurkan satu atau dua belah tangan ke hadapan hadirin jika anda setuju, menghimbau atau menawarkan gagasan untuk dipertimbangkan

b. Acungkan jari telunjuk ke atas tetapi jangan menunjuk kepada pendengar untuk meminta perhatian yang sungguh-sungguh

c. Tempelkan telapak tangan satu dengan yang lain untuk menasihati untuk berhati-hati atau minta agar mempertimbangkan sesuatu dengan seksama

d. Gelengkan kepala atau gerak-gerakkan tangan dengan lengan setinggi bahu serta telapak tangan menghadap pendengar atau menolak atau tidak setuju

e. Gerakkan tangan seperti orang mau memeluk untuk menyatakan setuju

f. Dengan lengan setinggi bahu, telapak tangan terbuka, turunkan tangan itu hingga setinggi paha. Gerakkan tangan ini di samping badan, dan telapak tangan menghadap ke bawah untuk menyatakan menolak dengan sungguh-sungguh suatu prinsip yang penting

g. Untuk menghimbau, gerakkan tangan dari bawah ke atas dengan telapak tangan terbuka menghadap ke atas (seperti orang memberi isyarat agar orang berdiri atau bangun). Agar lebih berkesan lakukan gerakan itu perlahan-lahan.

h. Untuk membangkitkan semangat, kepalkan tangan dan gerak-gerakkan sedikit di samping kepala atau agak ke atas sedikit

i. Untuk memberi contoh peristiwa di suatu tempat, tangan menujuk ke suatu arah, tetapi jangan ditujukan ke arah pendengar, tetapi di atas atau ke samping pendengar

j. Bila sedang memperagakan sesuatu, gerakan anggota tubuh dapat disesuaikan dan dicocokkan dengan apa yang diperagakan atau apa yang dicontohkan

5. Lain-lain

a. Pandanglah semua pendengar secara teratur. Jangan sampaikan pandangan hanya tertuju pada sekelompok hadirin tertentu, sehingga kelompok yang lain merasa terabaikan

b. Jangan tampil dengan wajah cemberut atau pandangan liar yang mengesankan galak

c. Mengawali pidato jangan mengucapkan permintaan maaf karena tidak siap, tidak mengetahui masalahnya secara sungguh-sungguh, tidak tertarik dengan masalah yang akan dibicarakan, dsb

d. Jangan mengajukan pertanyaan yang membahayakan bila dijawab “tidak”

e. Menutup, mengoreksi atau menentang pembicara sebelumnya. Hal ini akan mengurangi simpati pendengar kepada pembicara yang menentang itu, sebab sebagian pendengar pasti ada yang simpati dengan pembicara yang ditentang itu

f. Cobalah berpidato dengan membawa catatan seperlunya, kecuali memang menggunakan metode naskah

g. Bila sebagian pendengar ada yang sengaja terbatuk-batuk, memindah-mindahkan kursi, menjatuhkan botol minuman atau berbincang-bincang dengan teman di dekatnya, segeralah memperlambat ucapan-ucapan anda atau berhenti sama sekali. Tindakan ini biasanya amat ampuh untuk menghentikan kegaduhan. Ingat, pembicara jangan “ngotot” berbicara selagi pendengar juga berbicara sampai gaduh

h. Jangan terlalu sering menggunakan bentuk tegun (hestation form). Bentuk tegun ialah bunyi atau kata yang dipakai untuk memikirkan sesuatu yang akan diucapkan, seperti :

w Jeda (diam agak lama, tidak menyuarakan apa-apa)

w Pemanjangan vokal e pepet, baik pada awal maupun pertengahan kalimat

w Pengulangan kata : jadi, apa, apa itu, apa namanya, daripada, dsb

i. Pemilihan kata, ungkapan, pola kalimat dan gaya bahasa harus diperhatikan sungguh-sungguh untuk meningkatkan daya tarik pidato. Dengan kata lain, pembicara harus menggunakan siasat pemakaian bahasa untuk menimbulkan efek tertentu.

Contohnya :

w Pada saat itu, tidak ada di antara kita yang tidak mengalami masa-masa yang sulit, yang berbahaya yang penuh dengan penderitaan dan pengorbanan

w Upacara ini, bukan di hutan, bukan di gunung, bukan di padang yang tandus, tetapi di halaman sekolah

Pengulangan kata kunci pada contoh diatas tampak menduduki posisi awal dari kalimat sedangkan pola kalimat-kalimat itu sejajar satu dengan lainnya. Dengan kata lain, teknik penekanan kata inti diwujudkan dengan perpaduan beberapa teknik kebahasaan, yaitu pengulangan kata kunci, penempatan pada posisi awal, dan paralelisme pola kalimat. Ketiga teknik ini dikombinasikan untuk mencapai efek yang dikehendaki oleh pembicara, yaitu mendorong gagasannya masuk kebenak dan hati pendengarnya.

About forumkuliah

Dosen, trainer, writer

Posted on January 23, 2009, in Interpersonal skill. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: