Fatwa Haram Golput Kegagalan Relasi Demokrasi Politik Negara

Pemilu pilpres 2009 sudah dekat untuk digelar. Beragam isu muncul menjelang hajatan akbar tersebut. Mulai dari maraknya partai politik baru yang mewarnai kancah demokrasi negeri ini, wajah-wajah baru calon pemimpin masa depan yang ingin ikut melenggang ke istana, persoalan nomor urut caleg, bermunculannya calon independent non partai, dan juga golput yang semakin gencar disuarakan dan dibicarakan. Untuk yang paling akhir ini, akhirnya pemerintah bersama MUI (majelis Ulama Indonesia) mengeluarkan fatwa controversial, bahwa golput itu haram.

Rupanya pemerintah dan parpol telah mulai gerah melihat perkembangan yang akhir-akhir ini terjadi terkait dengan beberapa kalangan yang menyuarakan untuk melakukan golput pada pemilu pilpres tahun 2009. Tidaklah mengherankan, kenyataan pada pengalaman sebelumnya, pada pemilu 1999 angka golput sebesar10,40 persen, meningkat pada pemilu 2004 sebesar 23,34 persen. Gejala ini masih berlanjut pada pemilihan kepala daerah langsung, dimana menurut riset Lingkaran Survey Indonesia (LSI) angka golput rata-rata mencapai 27,9 persen. Realitas ini membawa sebuah pesan implisit, bahwa semakin hari partisipasi masyarakat dalam memilih pemimpin dan menentukan masa depan bangsa semakin rendah. Ini menunjukkan gejala kegagalan pemerintah dan segenap orbitnya untuk membangun relasi demokasi yang sehat dan amanah kepada pemegang kedaulatan yaitu rakyat.

Golput & “Pasukan Sakit Hati”

Ada beberapa penyebab mengapa masyarakat mulai apatis dalam membangun kualitas berdemokrasi lewat media pemilihan umum. Pertama, karena terganjal urusan administratif, dimana pendataan dan pendaftaran pemilih yang kurang sistematis akan menyebabkan banyak sekali pemilih yang telah memenuhi starat, namun gagal terdaftar sebagai pemilih tetap. Kedua, pemilih merasa secara ekonomi politik, suara yang telah mereka berikan tidak terbukti memiliki implikasi langsung terhadap perubahan hidupnya. Artinya nyoblos ra nyoblos podo wae. Ketiga, gejala ketidak percayaan masyarakat atas pilihan yang saat ini disediakan. Rakyat memandang tidak adanya terobosan pembaharuan dalam tubuh partai maupun pemimpin politik untuk berani menjaga amanah dan memiliki integritas konkrit. Rakyat yang saat ini mengalami sidrom politik “sakit hati” sedang butuh obat. Namun, tenyata obat itu tidak datang dari calon independen, partai baru yang katanya ingin memperbarui, namun berupa fatwa yang mengharamkan golput.

Kegagalan Relasi Demokrasi Negara

Negara saat ini baru mendapatkan ujian yang dasyat, jika saya boleh bilang demikian. Bagaimana tidak, saat ini dimana tonggak demokrasi yang selalu didengungkan sebagai solusi terbaik dalam relasi Negara dan rakyat. Namun terluka oleh keputusan primitif untuk mengebiri kedaulatan rakyat dengan memaksakan sebuah partisipasi politik rakyat, tanpa harus berintropeksi bahwa banyak sekali celah kegagalan yang harusnya mendapatkan tempat untuk dibenah, agar rakyat kembali terbangun kepercayaannya. Contohnya bagaimana pemilu 2004 melahirkan pemerintahan yang cenderung kapitalistik, parsial, dan belum berwawasan kebangsaan. Esensi demokrasi yang lebih mengedepankan kebebasan dan kedaulatan, serta keadilan seakan hanya menjadi pengalaman indah, yang terjadi pada tahun 1955 dan 1999.

Kedua, kecendrungan untuk berkompetisi layaknya pasar persaingan sempurna, memunculkan kondisi yang tidak lebih sehat bagi rakyat. Untuk mampu menjalin relasi yang kuat, maka negara seharusnya menempatkan kepentingan rakyat diatas kepentingan golongan. Situasi politik saat ini, tidak ubahnya kumpulan pemasar yang saya sebut bingung mencari penumpang, dimana sebagian penumpang ragu untuk berada dalam bus, karena merasa bus itu tidak lagi nyaman, aman untuk membawa ketempat tujuan. Meski sudah muali lelah untuk bersosialisasi, beriklan lewat media, seminar, symposium, temu kader, namun tetap saja ada rasa was-was akan rendahnya partisipasi. Untuk itu maka mereka menempuh jalan yang sama sekali tidak populis, dengan memanfaatkan agaman untuk masuk dalam ranah politik

Ketiga, kekuatan demokrasi dibangun dengan pemerintahan yang sehat, partai politik yang saling menguatkan dan bersinergi, tanpa melupakan fondasi utama yaitu rakyat. Untuk dapat melakukan pembelajaran efektif maka sebenarnya komunikasi paling efektif adalah hasil. Untuk itulah relasi ini terbangun, yaitu untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat meningkatkan kesejahteraan umat secara kolektif. Pada waktu kesejahteraan kolektif ini tidak mampu dicapai secara merata, maka runtuhlah harmoni kebersamaan. Contohnya, disaat swasembada beras mulai dicanangkan, namun banyak tanah potensial yang terkonversi menjadi perumahan. Semakin banyak daftar orang kaya di Indonesia seperti dilansir majalah Forbes bulan Desember 2007, disisi yang lain semakin meningkat kasus busung lapar, perdagangan perempuan dan anak meningkat, dan terbengkalainya masalah TKI di luarnegeri. Realitas inilah yang membawa implikasi negative, terhadap penurunan partisipasi public.

Agama bukan politik, politik bukan agama

Dalam konteks kehidupan sosial kemasyarakatan, hubungan antara agama dan politik jelas memiliki suatu keterkaitan, namun tetap harus dibedakan. Satu pihak, masyarakat agama memiliki kepentingan mendasar agar agama tidak dikotori oleh kepentingan politik, karena bila agama berada dalam dominasi politik, maka agama akan sangat mudah diselewengkan. Akibatnya agama tidak lagi menjadi kekuatan pembebas atas berbagai bentuk penindasan dan ketidakadilan, sebaliknya agama akan berkembang menjadi kekuatan yang menindas dan kejam.

Di pihak lain, adalah kewajiban moral agama untuk ikut mengarahkan politik agar tidak berkembang menurut seleranya sendiri yang bisa membahayakan kehidupan. Agar agama dapat menjalankan peran moral tersebut, maka agama harus dapat mengatasi politik, bukan terlibat langsung ke dalam politik praktis. Karena bila agama berada di dalam kooptasi politik, maka agama akan kehilangan kekuatan moralnya yang mampu mengarahkan politik agar tidak berkembang menjadi kekuatan yang menekan kehidupan dan menyimpang dari batas-batas moral dan etika agama, masyarakat, dan hukum (Daniel Johan, 2007).

Dalam kasus fatwa haram untuk golput sangat rentan terhadap manipulasi politik terhadap agama. Bagaimana agama ditempatkan sebagai solusi terbaik untuk mamaksakan kehendak yang bukan pada tempatnya dan tidak demokratis. Keadaan ini bukan berdiri sendiri, namun memiliki kaitan dengan semakin apatisnya masyarakat terhadap partai politik dan calon pemimpin bangsa. Disaat kemampun politik sudak tidak mampu lagi membendung kehendak rakyat, dan relasi negara yang telah kabur oleh janji-janji yang tidak berujung pangkal, maka kemudian agama dianggap menjadi komunikasi paling efektif dalam menjangkau partisipasi pemilih. Untuk itulah, negara saat harus mulai berkaca, bahwa demokrasi yang selama ini dibangun telah berpaling dari tuannya, yang sebenarnya juga masih belajat arti dan esensi sesungguhnya dari demokrasi. Berkaca saja pada negara empunya demokrasi seperti Amerika. Di negara tersebut, partisipasi politik rata-rata tidak lebih dari 50 % (43%), namun ada peningkatan yang cukup signifikan ketika Barrack Obama menjadi kandidat presiden. Partisipasi politik AS meningkat pesat menjadi 63%. Bandingkan dengan Indonesia yang rata-rata partisipasi 73%.

Mendewasakan untuk berpolitik dan berdemokrasi bukan dengan jalan pemaksaan. Mengharamkan golput tak akan membuat warga semakin dewasa dalam berdemokrasi. Yang akan terjadi malah sebaliknya, masyarakat cenderung terjerat arus mobilisasi, bukan partisipasi murni yang didasari oleh kesadaran melaksanakan hak pilih. Jika ini yang terjadi maka, anda akan melihat para zombi yang berjalan menuju bilik suara. Untuk memastikan bahwa dia telah melaksanakan kewajibannya dan bukan hal politiknya

About forumkuliah

Dosen, trainer, writer

Posted on February 3, 2009, in Tulisan Media Massa. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: