Otomatisasi Komunikasi Pemasaran UKM

Badai krisis keuangan yang melanda Indonesia akhir tahun 2008, menyisakan pilu pada ribuan buruh yang lagi-lagi menjadi tumbal akan rapuhnya pondasi ekonomi nasional. Penguatan ekonomi yang berbasis pada perbankan dan usaha berskala besar menjadikan penumpukan modal yang cukup besar.

Kredit ke UMKM dalam tiga tahun terakhir mengalami penurunan sangat berarti, dari 143,5% pada 2005 menjadi 85,2% pada 2006 dan akhir semester I 2007 malah hanya 39%. Padahal di sisi lain, UMKM memperlihatkan kualitas baik, terlihat dari relatif rendahnya kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) akhir semester 2007 untuk kredit UMKM hanya 4,62%, sedangkan NPL (gross) secara keseluruhan mencapai 5,86%. Meskipun pada tahun 2008 pemerintah telah menggelontorkan program pemberdayaan melalui program KUR (kredit usaha rakyat) dan PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) Mandiri, namun realisasi kreditpun belum juga memuaskan.

Persoalan UKMK

Pertama, Salah satu penyebab rendahnya realisasi kredit bagi UKM adalah rendahnya tingkat kelayakan UKM untuk mendapatkan talangan dana tertentu. Ditambah lagi ketiadaan UKM untuk memiliki anggunan sehingga banyak yang tidak bank able. Dengan dukungan permodalan yang kurang memadai tentu saja, geliat usaha tidak mampu berkembang dengan sehat.

Kedua, adalah daya dukung teknologi untuk beroperasi dengan lebih efektif dan efisien. Hal ini penting agar kualitas barang yang dihasilkan mampu mencukupi kebutuhan tuntutan pasar konsumen sesuai mutu yang diharapkan. Untuk itu, maka diperlukan teknologi tepat guna untuk menjadikan percepatan produksi ukm dapat ditingkatkan.

Ketiga, rendahnya komunikasi pemasaran dan jangkauan yang terbatas. Persoalan ini merupakan hal yang klasik, namun belum mampu dipecahkan terutama untuk UKM yang memiliki potensi global, namun terbatas dalam jangkauan pemasaran. Saat ini, proses komunikasi pemasaran masih bersifat parsial atau terpecah-pecah. Belum ada koordinasi yang maksimal dari para pelaku UKM untuk mengelola pasar yang ada. Persoalan ini merambah pada persaingan yang tidak sehat antar UKM sendiri. Timbulnya pemikiran prakmatis untuk segera mendapatkan untuk menjadikan citra UKM sempat merosot di mata konsumen maupun perbankan.

Pemanfaatan Teknologi Otomatisasi

Pada era saat ini, setiap industri harus mampu memperluas jaringan pasar, baik untuk bisnis ataupun konsumen. Perluasan jaringan akan membantu setiap industri berkomunikasi dengan pasar secara luas. Jaringan ini bisa dijalin dengan pihak terkait, terutama pemerintah, perbankan, konsumen, dan bisnis lainnya. Untuk itu, dibutuhkan teknologi yang mampu mengotomastiasi keterhubungan antar industri tersebut dengan lebih cepat, murah, dan mudah.

Pemanfaatan komputer sebagai basis teknologi, dan internet sebagai media berkomunikasi merupakan hal yang patut dilirik untuk lebih maksimal diberdayakan. Saat ini, di Indonesia saja pengguna internet mencapai 20 juta, dan diperkirakan untuk tahun 2009 akan meningkat lebih dari 30% seiring dengan meningkatnya pertumbuhan pemilikan komputer, pemakaianan internet gratis (hotspot), dan pengenalan internet yang telah mencapai kawasan pedesaan. Inilah potensi pasar yang sangat besar untuk pelaku bisnis UKM dalam pengembangan usaha dan penyerapan produksi secara massif.

Pemanfaatan teknologi ini dapat direalisasikan, salah satunya adalah dengan alokasi sinergi yang baik antara pelaku UKM dengan pihak yang terkait dengan teknologi computer, misalnya perguruan tinggi dengan basis pembelajaran computer. Sebagai institusi nirlaba yang salah satunya memiliki tanggungjawab pengabdian pada masyarakat, institusi pendidikan tinggi sangat memungkinkan untuk ikut memberdayakan UKM. Kedua, perguruan tinggi dapat juga menjalin kerjasama dengan pihak BUMN/BUMD yang notabene memiliki mitra binaan UKM. Mitra binaan ini, selain mendapatkan kujuran dana, mereka juga akan terbantu untuk lebih mudah menjangkau pasa bisnis ataupun pasar konsumennya.

Tekonologi berbasis www

Penerapan konsep komunikasi pemasaran yang memungkinkan untuk membantu UKM adalah dengan menggunakan teknologi berbasis web. Teknologi ini diharapkan dapat menampung informasi mengenai produk, harga, tempat, dari para pelaku UKM secara kolektif. Media ini akan menjadi media promosi dan komunikasi baik antar pelaku usaha untuk dapat saling memanfaatkan atau dengan konsumen murni. Selanjutnya, media web ini dapat dikoneksikan terutama pada situs-situs yang berkaitan, misalnya situs pemerintah daerah, situs deperindag, dan lain sebagainya. Inilah yang disebut sebagai koneksitas antar jaringan yang akan semakin memperluas cakupan komunikasi.

Dengan situs kolektif UKM ini dimungkinkan UKM tidak hanya berorientasi untuk mencukupi kebutuhan lokal, namun sangat mungkin karena sifatnya yang berbasis internet, maka pasar globalpun dapat ditembus dengan mudah. Kesanggupan tiap komponen pelaku UKM untuk terus meningkatkan kualitas dan variasi produk sesuai keinginan pasar akan berdampak positif sebagai sarana menembus pasar global. Bisa dibayangkan jika UKM telah tumbuh sebagai poros ekonomi yang juga mampu mendatang devisa, maka bukan tidak mungkin sektor ini akan mendapatkan prioritas utama untuk dimaksimalkan.

Tekonologi web bukanlah sesuatu yang sulit diaplikasikan. Dengan penyesuaian yang baik, akan memudahkan pelaku UKM untuk mengelola informasi dan komunikasi kepada konsumen. Paradikma yang masih memandang internet adalah masa depan adalah hal yang keliru. Untuk itu perlu adanya pemahaman yang baik melalui sosialisasi yang masif dan literasi komputer yang bertahap. Proses ini membutuhkan program pendampingan yang mampu dilakukan oleh pihak-pihak terkait, seperti perguruan tinggi, pemerintah, dan BUMN/BUMD sebagai wadah bagi mitra binaan UKM.

Kesinambungan program

Hal terpenting dari sebuah program pemberdayaan adalah pertama, agar program tersebut mampu mepertahankan konsistesi program dan kedua, kemandirian pihak uyang diberdayakan. Konsistensi program dapat dilakukan dengan proses pendampingan berkala kepada UKM dengan dibarengi pembangunan semangat untuk belajar, dan mau berubah untuk memanfaatka teknologi berbasis komputer. Pengawasan serta evaluasi yang tersistemasi akan menjadikan program ini untuk semakin berkembang, dan menjadikan efek bola salju kepada pelaku UKM lainnya. Kedua, program ini harus menciptakan kemandirian UKM, bukan menjadikan ketergantungan tinggi. Untuk itu, maka para pelaku UKM yang diberdayakan harus mampu menyerap teknologi, pemakaian secara efektif, dan mempunyai wawasan untuk mnyebarluaskan informasi kepada lebih banyak UKM. Kedepannya pengelolaan program akan dapat dikembangan antar UKM sendiri dalam suatu wadah mandiri. Sukses untuk UKM Indonesia.

About forumkuliah

Dosen, trainer, writer

Posted on February 3, 2009, in Tulisan Media Massa. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: