Tahun Baru Hijriyah Rekontruksi Karater & Mentalitas Bangsa

Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Medinah yang dijadikan titik awal dari Tahun Hijriah. Peristiwa Hijrah adalah momentum yang menandai terjadinya perubahan masyarakat Jahiliah yang bodoh dan terpuruk menjadi masyarakat Islami yang selamat, sejahtera dan damai. Inilah tonggak awal kebangkitan masyarakat untuk menjadi bangsa yang lebih beradap dan berbudaya, serta memiliki moralitas.

Tepat pada tanggal 28 Desember 2008 ini, tonggak baru dibangun dinegeri ini. Umat memasuki tahun 1430 H. bagi umat Islam, hal ini bukan sekedar hangar-bingar teropet, tidak cukup dengan pesta kembang api dan kemeriahan hedonitas sekejab, namun tahun baru hijriyah lebih kepada pemaknaan baru tentang diri dan kondisi bangsa untuk keluar dari badai krisis, keterpurukan mental dan kemiskinan.

Perayaan tahun baru hijriyah yang seakan dilupakan oleh umat islam sendiri. Kesibukan untuk mempersiapan pesta pada tahun baru masehi (I Januari) terkadang menimbulkan dikotomi pemaknaan dan

Hijrah berpindah untuk menjadi lebih baik

Peristiwa hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad dari Mekkah ke Medinah menandai tonggak baru perkembangan Islam. Di hari itu tergambar dengan jelas titik perjuangan dan pengorbanan Rasulullah berserta sahabat-sahabatnya untuk mempertahankan risalahnya. Tak terbayang bagaimana penderitaan yang harus ditanggung ketika di siang hari yang sangat panas atau di malam yang sangat gelap, mereka berjalan kaki, turun naik gunung yang berbatu-batu, melewati padang sahara yang gersang, dengan perbekalan seadanya. Padahal di Makkah mereka bisa hidup nyaman. Namun semua itu dilakukan demi tegaknya agama ini. Hijrah adalah langkah strategis untuk membangun basis kekuatan baru. Tidak hanya kekuatan fisik, melainkan juga kekuatan psikologis.

Bagi Indonesia dengan mayoritas penduduk beragama Islam, seharusnya 1 Muhharam memiliki makna spiritual dan psikologis yang kuat. Secara spiritual, tahun baru Islam menjadikan kita lebih dewasa dalam memandang penghikmatan dan keyakinan kita pada Allah SWT. Realitas umat merupakan gambaran konkrit bagaimana terjadinya ketidakseimbangan kehidupan masyarakat. Orientasi materiil yang lebih mendominasi, menjadikan ketimpangan dan kemiskinan. Arogansi duniawi telah menutup hati dan pikiran untuk mampu saling berbagi dengan saudara seiman, sehingga memunculkan konflik antar saudara se-Islam hanya karena berbeda dalam pemahaman. Secara psikologis, kenikmatan untuk mampu mensyukuri setiap nikmatNya, menjadikan kita lebih optimis dalam memandang masa depan, mesekapi setiap situasi baik ataupun buruk dengan kepasrahan dan rasional. Kekuatan mental menjadi kunci untuk menghindari tindakan yang tidah rasional untuk mengatasi keterpurukan.

Untuk menjadi lebih baik membutuhkan proses penjalanan yang tidak mudah. Pembelajaran bangsa di masa lalu, menjadi pengalaman berharga untuk mencapai proses yang lebih baik. Sesuatu yang serba instan dan pragmatis akan menimbulkan efek sementara dan tidak permarnen. Sebut saja, bagaimana proses pemilihan kepala daerah yang menimbulkan konflik horizontal yang kental dengan kekerasan fisik. Sinyalemen kecurangan dan pengelembungan suara, serta maraknya praktek politik uang yang semestinya tidak untuk terjadi. Namun itulah proses, dimana akhirnya tidak selalu indah dan menyenangkan.

Pembangunan Karakter dan Mentalitas Bangsa

Bangsa ini bukanlah bangsa kecil. Namun disitulah letak tantangan untuk mampu mengelola potongan-potongan indah itu, menjadi lukisan yang indah. Tantangan terbesar saat ini adalah memberi arah yang jelas terhadap transformasi kultural yang saat ini melanda. Merekonstruksi bentuk karakter dan mentalitas bangsa yang sepertinya telah mengalami distorsi atas pemaknaan dan penyerapan nilai baru. Kelemahan karater dan mentalitas menjadi awal belantara negeri ini untuk menjadi kuburan, pengusuran dan PHK bagi si miskin, namun menjadi tempat pesta, bagi mereka yang memiliki akses ekonomi kuat. Hal itu terjadi tidak hanya pada ranah ekonomi, namun juga politik dan budaya. Bagaimana hasil akhir selalu ditentukan dengan uang dan kekuasaan, dan bukan atas dasar kedaulatan dan kesejahteraan umat. Untuk itulah maka Islam memberikan patokan berharga bagi tumbuhnya karater dan mentalitas bangsa untuh lepas dari kejahiliyahan dunia baru.

Pertama, bahwa hijrah telah melahirkan suasana baru yang sangat memungkinan terbangunnya ukuwah Islamiyah, di mana kwalitas ukhuwah ini benar-benar melebihi tingkat ukhuwah yang semata tegak di atas hubungan nasab dan darah. Keberagaman bukanlah merupakan sebuah kondisi untuk saling menjatuhkan, Namun kompetisi atas dasar saling menghormati dan menghargai akan menjadikan suasana menjadi lebih indah. Karakter dan mentalitas untuk siap menang dan kalah, siap mendukung, bersinergi dan bergotong royong direkonstruksi dalam konsep ukhuwah islamiyah.

Kedua, kesadaran akan keberadaan orang lain untuk saling memberdayakan akan membentuk kekuatan baru, yang lebih solid dan memiliki kewibawaan di hadapan bangsa lain. Bangsa lain yang melihat karakter kesatuan yang kyat, akan berfikir ulang untuk mengganggu dan membuat kekacauan, serta isu-isu yang melemahkan intergritas mental bangsa.

Ketiga, menghargai proses berarti berkeinginan untuk bekerja keras. Memberikan usaha terbaik untuk lebih banyak orang dengan hasil yang nyata. Karakter ini akan membawa setiap individu di republik ini untuk selalu memahami bahwa hal kecil, jika itu dilakukan akan membawa sesuatu yang besar. Misalnya kita mulai untuk selalu tersenyum pada sertiap orang, membuang sampah pada tempatnya, atau mematuhi lalu lintas. Sesuatu yang sederhana ini, jika itu merupakan peningkatan dari orientasi pengalaman hidup, mempunyai nilai bagi peningkatan trasformasi psikologis kita. PHK bukan halangan kita untuk mencari rizki Allah, karena kesaradan yang tinggi untuk selalu berproses dan mengembangan diri.

Dengan demikian makna Hijrah akan selalu hidup dalam diri kita dan umat Islam lainnya. Hidup karena kita mentranformasikan maknanya ke dalam moral. Sehingga peristiwa yang pernah dilakukan Rasulullah itu, tidak semata kejadian biasa, melainkan menjadi sebuah manhaj, yang harus senantiasa direnungkan maknanya dan diamalkan ibrahnya. Lebih-lebih kini Umat Islam sedang berada di titik ujian yang sangat berat. Ujian dari dalam maupun dari luar. Karakter bangsa yang kuat, yang tidak terbelenggu oleh perubahan, teracuni oleh hedonitas sesaat yang menjadikan hilangnya kualitas perubahan itu sendiri. Mari sebagi umat Islam, kita seharusnya memiliki cermin yang jernih untuk melihat persoalan bangsa ini dari berbagai perspektif yang paling memungkinkan. Nabi Muhammad SAW telah memberikan taulan dan karakter mulia. Tinggal bagaimana kita mampu lulus dari soal yang sebenarnnya telah jelas jawabannya. Risalaha beliau memberikan terang tindakan dan pikiran untuk melangkah pada tahun baru, zaman baru dan peradapan baru. Selamat Tahun Baru Hijriyah 1430 H.

About forumkuliah

Dosen, trainer, writer

Posted on February 3, 2009, in Tulisan Media Massa. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: