Belajar Dari Pencabut Rumput

Pernah suatu waktu, saya sedang ingin mempercantik halaman depan rumah agar tampak lebih asri. Halamannya cukup luas, ukurang 6X5 Meter yang ditumbuhi dengan begitu banyak tanaman liar. Maksud hati agar memberikan kesan lebih bersih, segar dan tertata. Persoalan klasik sebuah halaman depan yang tidak bersemen adalah rumput. Walaupun tidak sengaja disuburkan, namun tumbuh sangat segar. Beberapa kali saya mencoba untuk membersihkan sendiri, hitung-hitung olahraga, pada saat waktu luang yang biasanya hanya untuk nonton televisi. Namun ternyata bersih-bersih rumput ini bukan persoalan sederhana, apalagi dengan halaman yang cukup luas, ternyata hasil kerja saya ketika mencabut rumput selalu kurang maksimal. Selalu ada rumput yang tertinggal, entah itu anaknya, atau cucunya si rumput. Hari-hari berikutnya masih juga sama, alih-alih halaman bersih dari rumput, namun menjadi terkesan menjadi kurang teratur, karena rumput yang tercabuti kurang merata.

Akhirnya keputusan terakhir saya adalah memanggil seorang tukang kebun, untuk merapikan rumput dihalaman tersebut. Saya berfikir bahwa merekalah yang seharusnya memberikan perlakuan yang tepat pada rumput tersebut, karena memang itulah pekerjaan mereka, entah saya bisa menyebut sebagai yang lebih professional. Maka, sesuai dengan hari yang telah dijanjikan datanglah orang tersebut, dengan membawa alat “perang” lengkap, jauh lebih lengkap daripada yang saya pakai tempo hari.

Pak Munajib, bapak itu biasa dipanggil segera bekerja, mulai bekerja pukul 08.15 untuk membersihkan halaman dari rumput yang semakin subur tersebut. karena masih ada beberapa tugas yang belum selesai, saya putuskan untuk bergaul sejenak dengan laptop saya untuk menyelesaikannya. Namun tetap saja, rasa penasaran saya yang begitu besar membuat saya kurang nyaman. Selalu setiap kata yang saya ketik, ada pertanyaan yang masih terngiang di benak saya, apakah pak Munajib mampu menyesaikan tugasnya hari ini. Rasa penasaran yang tidak terbendung lagi, membuat saya memutuskan untuk sesekali melihat melihat keluar melalui jendela rumah, sejauh mana progress yang telah Pak Munajib hasilkan. Sedikit terkejut, namun juga kagum, ternyata halaman saya sudah lebih dari ¾ halaman sangat bersih dari rumput, dan ketika saya tengok jam digital saya, waktu menunjukkan pukul 11.49 WIB. Dalam rentan waktu yang tidak begitu lama Pak Munajib telah melakukan pekerjaannya dengan sempurna.

Saya masih di depan jendela mencoba untuk lebih detail memperhatikan bagaimana seorang tukang rumput bekerja. Setelah sekian lama saya menemukan beberapa hal pokok yang bisa kita ambil dari seorang Pak Munajib seorang tukang rumput. Pelajaran yang begitu berharga dalam kerangka pencapaian sukses individu ataupun lembaga. Nilai konkrit hidup yang mampu membawa sebuah pekerjaan untuk menghasilkan sesuatu yang sempuna.

Mentalitas ini dulu: Pak Munajib memulai dengan suatu pemikiran yang pasti dan konsisten, beliau mulai mencabut rumput dengan alat yang telah dipilih (sekop kecil), kemudian duduk dengan tenang dan mulai bekerja. Satu persatu rumput dicabutnya, namun yang paling mengesankan adalah dia memfokuskan mata dan alatnya pada daerah yang dia telah tandai dengan otaknya, dan belum berpindah sebelum daerah yang ditandai tersebut benar-benar bersih. Setelah bersih dia menandai daerah berikutnya dan seterusnya seperti itu sampai rumput benar-benar bersih. Bahkan dia sama sekali tidak tertarik dengan rumput di tempat lain yang begitu subur dan harus pula dicabut. Dan ini dia lakukan dengan tenang dan rapi walaupun udara diluar sangat panas.

Dalam konteks ini kita bisa mencermati bahwa ketika kita mencabut rumput terkadang kita berpikir awal bahwa “saya akan mencabut semua rumput”, oleh karena itu terkadang kita akan mulai dari sudut mana, dari arah mana seringkali kita menemukan kebimbangan. Input kebimbangan ini kemudian diimplementasikan dalam bentuk “asal cabut”. Ini pula yang kemudian menjadikan kita menjadi hilang arah, “cabut sana, cabut sini”, sehingga membuat pekerjaan kita semakin keras namun hasil yang didapatkan sangat minim, bahkan mungkin berantakan. Fokus menjadi kata yang tepat untuk merepresentasikan mentalitas ini. Setiap pekerjaan yang kita lakukan akan berefek positif jika kita mampu untuk lebih focus dan berkonsentasi melakukannya, bukan kuantitas tapi kualitas. Bukan persoalan berapa banyak yang dikerjakan, namun berapa banyak yang diselesaikan. Hal ini yang bisa disebut bekerja dengan orientasi hasil, prestasi, dan pencapaian. Sekedar gambaran saja, banyak hal yang bisa kerjakan dalam hidup , namun kita harus memilih yang terbaik, terbisa, terealistis yang kita bisa lakukan dan tercapai. Ini pula yang harus kita renungkan bersama bahwa manusia dipenuhi dengan beragam potensi, dan dengan potensinya mereka mampu memberikan kerangka sukses positif, namun tidak setiap hal sesuai dengan potensi tersebut, hal inilah yang seharusnya kita sadari sehingga anda dan saya mampu mencapai sukses sesungguhnya.

About forumkuliah

Dosen, trainer, writer

Posted on February 5, 2009, in Artikel Motivasi. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: