Bersih Itu Indah

Saya tertarik dengan sebuah kata dalam sebuah iklan sabun cuci di televisi. Dalam iklan itu, narator iklan menyebutkan kata “berani kotor, itu baik”. Kata kotor dalam iklan itu mengandung pesan bahwa, jika kita ingin lebih banyak tahu, belajar, mempunyai pengalaman, maka jangan takut mengambil resiko. Artinya apa, dalam setiap proses, pasti butuh pengorbanan, termasuk berkotor-kotoran ria. Namun, di akhir bagian iklan, bahwa yang kotor itu bisa menjadi bersih, dan kita bisa menambil pelajaran dari proses tersebut. Sahabat, jika kita pahami pesan iklan diatas, maka akhirnya bahwa semua hal yang kotor harus kembali bersih.


Setiap manusia, sekotor apapun pasti mempersepsikan bersih sebagai hal yang positif. Baju yang kotor harus dicuci agar bersih, badan yang mulai ”kuyu” dan bau, dimandikan agar segar dan bersih, halaman yang penuh daun, disapu agar tampak rapi, rumah yang kusam, dicat kembali agar tampak terlihat kembali baru dan enak dipandang dan kita akan lebih suka berkomunikasi dengan orang yang bersih. Sadar atau tidak bahwa bersih itu selalu identik dengan sesuatu yang indah, rapi, menarik, dan menyenangkan.

Dalam Islam kebersihan begitu diperhatikan. Salah satu inti ajaran yang tidak bisa terpisahkan dari agama Islam adalah thaharah. Islam menghendaki umatnya menjadi umat yang bersih dan suci baik lahir maupun batin. Segala bentuk kotoran yang dapat merusak kesucian lahir dan batin manusia pasti dilarang oleh Islam. Islam bahkan menjadkan kesucian setengah dari iman. Tentunya yang dimaksud kesucian disini adalah kesucian lahir dan batin atau kesucian jasmani dan rohani. Rasulullah saw bersabda, “At-Thuhûr syathru ‘l-îmân.” (kesucian adalah setengah dari iman). Tidakkah kita memperhatikan betapa tinggi makna ungkapan Rasulullah di atas? Iman adalah segala-galanya bagi orang muslim, dan setengah dari iman itu adalah kesucian. Hal ini menunjukkan betapa istimewanya kedudukan thaharah dalam Islam.Bersih itu indah. Hal demikian jika kita sebagai insan menjaga keseimbangan, yaitu bersih jasmani dan bersih rohani.
Kebersihan jasmani harus dijaga, agar penampilan luar kita nampak bersih dan menarik. Dalam seminggu Rasulullah saw mewajibkan mandi minimal sekali bagi umat Islam, yaitu ketika hendak melaksanakan ibadah shalat jumat. (al-ghuslu wâjibun ‘ala kulli muhtalim, HR. Iman Bukhori). Rasulullah saw menyabdakan bahwa ada lima hal yang merupakan fitrah manusia yaitu: memotong kuku, mencukur kumis, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan dan memanjangkan jenggot. Dalam hal berpakaian kita juga seharusnya memakai pakaian yang pantas, menghormati orang lain dan menjaga harga diri. tetapi semua itu haruslah dalam batas kewajaran dan kesederhanaan, karena Islam juga melarang berlebih-lebihan, bermewah-mewahan dan melakukan perbuatan yang mubazzir, karena semua itu merupakan perbuatan setan. Adapun tujuan pakaian dalam pandangan Islam ada dua macam; yaitu, guna menutup aurat dan berhias. Ini adalah merupakan pemberian Allah kepada umat manusia seluruhnya, di mana Allah telah menyediakan pakaian dan perhiasan, kiranya mereka mau mengaturnya sendiri.Maka berfirmanlah Allah s.w.t.:”Hai anak-cucu Adam! Sungguh Kami telah menurunkan untuk kamu pakaian yang dapat menutupi aurat-auratmu dan untuk perhiasan.” (al-A’raf: 26)
Kebersihan rohani, lebih mengarah pada hati. Batin (hati) adalah sumber prilaku manusia. Jika hatinya baik maka prilakunya juga akan baik. Hati juga adalah obyek yang dilihat oleh Allah Swt. Bayangkanlah jika ternyata selama ini isi hati kita adalah cinta yang berlebihan kepada duniawi kemaksiatan, khianat, kebencian, permusuhan, ketidak ikhlasan, riya’ dan selalu ingin didengar, dan berbagai kekotoran hati lainnya, lalu dengan apa kita akan menghadap Allah Swt di hari akhirat kelak? Apa modal yang akan kita bawa padahal ibadah hati merupakan syarat diterimanya ibadah lahir. Padahal Rasulullah saw bersabda: “Innallâha lâ yanzhuru ilâa shuwarikum, wa lâa ilâ ajsâammmikum walâakkkin yanzhuru ilâ qulûbikum.” (HR. Muslim) (Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada badanmu, tidak juga kepada rupamu, tetapi ia memandang kepada hatimu).
Ulasan diatas merupakan pedoman bagi sahabat sekalian khususnya umat muslim dan seluruh manusia, karena Islam adalah agama yang “rochmatan lil a’lamin”. Maka sepantasnyalah kita melaksanakannya. jika kita ingin menjadi tenang, senang, aman, dan terbebas dari segala kerusakan, akibat kekotoran duniawi.
Sahabat, jika kita membawa pemaknaan bersih ini pada dunia karir, seringkali kita menemukan lingkungan tempat kita bekerja, masih “kotor”. Namun, bukan berarti yang “kotor” itu tidak akan bisa menjadi bersih. Namun, harus ada kemantapan dan partisipasi menyeluruh dari komponen organisasi. Hal-hal kotor yang masih sering terjadi di kantor dan dianggap biasa antara lain ;
1. Datang terlambat : Masih sering kita temukan kondisi budaya kantor yang menganggap datang terlambat itu hal yang biasa, “kalau bisa terlambat, kenapa harus tepat waktu”, kata mereka. Cerminan budaya ini menunjukkan bahwa etos kerja yang dibangun sangat rendah. Sehingga, hal yang sebenarnya “kotor” dianggap “bersih” karena saking biasanya. Manifestasi kemampuan mentalitas yang cenderung tidak taat ini, bisa menjadi penyakit mental yang akut, sehingga dengan pendekatan apapun, terkadang kebiasaan ini susah sekali hilang. Hal demikian, sadar atau tidak kadangkala ikut membentuk perilaku sosial individu. Dia datang terlambat tidak hanya di kantor, namun juga pada acara rapat RT, upacara perkawinan, bertemu dengan sahabatnya, dan lain sebagainya.
2. Pulang Cepat : Korupsi waktu, adalah hal yang paling tepat merepresentasikan perilaku ini. Ketika bekerja fokus hanya pada jam dinding dan arloji. “waktu kok lambat banget”, kata dia. Ketika baru masuk, pikirannya langsung kapan makan siang, dan setelah makan siang, dia selalu berfikir, kapan pulang.
Produktifitas dan prestasi kerja tidak pernah difikirkannya. Proses penyelesaian kerja lamban, dan kurang terkontrol. Namun, ketiga ada teman yang kemudian dipromosikan, maka sifat iri dan dengki muncul, dan menambah kekotoran hati. Perilaku seperti ini, jika tidak segera dihilangkan akan dapat menular pada yang lain. Ingat, “kita lebih mudah ketularan sakit daripada ketularan sehat. Dan bisa dipastikan orang yang melakukan tindakan dan mentalitas yang “kotor” maka dia adalah orang sakit. Pertanyaannya adalah apakah sahabat akan mengikuti orang yang jelas-jelas “sakit”? Bisa jadi, karena “sakitnya”, membawa rejeki, meskipun tidak halal.
3. Gosip : Hal yang sangat menyenangkan memang, ketika bekerja sambil membicarakan orang lain. Dan silahkan jujur pada diri anda, bahwa ketika membicarakan orang lain, maka kita lebih sering mengutarakan sisi buruk daripada sisi baik. Nah, sahabat ini juga termasuk hal kotor yang haris dibersihkan ketika kita beraktifitas di kantor. Rasa syirik, iti, dengki, kebencian dan prasangka buruk bisa muncul dari aktivitas bergosip.
Alih-alih mendapat kesenangan, jika kita sembrono maka kita akan dijuluki ratu/raja (tukang) gosip. Jika sudah seperti itu maka kita akan cenderung dijauhi dan tidak dipercaya oleh pathner kerja kita. Rasulullah mengajarkan kita untuk selalu banyak-banyak beristigfar. Rasulullah bersabda: “Aku beristigfar dalam sehari lebih dari 70 puluh kali.” dalam riwayat lain 100 kali.
4. Penampilan yang buruk : Coba sahabat perhatikan, apakah tempat anda bekerja suasananya seperti “kuburan”. Ada banyak orang disana, namun penuh kebekuan, tidak saling menyapa, kurang senyum, bahkan selalu terlihat cemberut. Berbicara juga kasar, dan kurang bisa menghormati antar sahabat. Ketika memberikan pelayanan kepada pelanggan, tidak penuh dengan sukacita dan yang keluar selalu keluhan. Cara berpakaian yang asal-asalan, dan kurang menunjukkan profesionalisme. Islam mewajibkan kepada setiap muslim supaya menutup aurat, dimana setiap manusia yang berbudaya sesuai dengan fitrahnya akan malu kalau auratnya itu terbuka.
Baiklah sahabat, hal diatas mungkin saja kita juga pernah melakukan, atau bahkan sampai detik ini kita masih mengerjakannya. Namun, segala sesuatu kita diniatkan dengan hati, maka apapun juga kita bisa melakukan perbaikan. Mivasi yang kuat kita bangun dalam diri kita, namun tetap memegang teguh pedoman yang telah digariskan oleh agama dan aturan main di institusi tempat kita bekerja. Hal-hal berikut mungkin bisa kita lakukan:
1. Sadar akan kesalahan: setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan, namun tidak setiap orang mengakuinya sebagai sebuah kesalahan. Celakannya, kesalahan yang dilakukan itu akhirnya dianggap benar karena dilakukan secara bersama-sama, misalnya tidak disiplin, atau korupsi. Jika kita mempunyai kesempatan merenung, cobalah untuk melihat diri sahabat dengan sejujurnya. Dengan demikian, maka kita masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri. Apa jadinya jika kita merasa telah melakukan hal benar yang sebenarnya salah, maka ketika ingin memperbaiki kita akan merasa bingung karena tidak ada yang harus diperbaiki. Disinilah masalah terbesar kita.
2. Menetapkan target perubahan: Jika sahabat serius ingin berubah dari keadaan sekarang, maka setelah membaca artikel ini, segera tuliskan apa yang ada dalam diri sahabat yang masih perlu diperbaiki. Setelah itu tetapkan prioritas perubaha. Kita semua sadar bahwa perubahan diri dan perilaku tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh waktu dan ihktiar.

About forumkuliah

Dosen, trainer, writer

Posted on February 5, 2009, in Artikel Motivasi, Artikel Pelatihan, Interpersonal skill, Kepribadian Manajerial. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. boleh pak tahmid, bisa dibuka kategori yang interpersonal

  2. Saya menginginkan artikel tentang interpersonal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: