Hak Veto, Bukan Kita

Dalam setiap proses perubahan kita pasti akan dihadapkan pada berbagai jeram permasalahan. Jeram tersebut beragam bentuknya ada yang begitu menantang sehingga butuh banyak energi untuk melaluinya, namun kadang kala hanya sekilas hadir untuk menguji kesungguhan kita. Karena wajar suatu capaian prestasi luar biasa pasti tidak mungkin dilepaskan dari problema dalam setiap detik usaha pencapaiannya.

Seringkali dalam setiap usaha yang kita lakukan, kita mendapatkan hasil yang membuat kita patah arang. Kegagalan bukan hanya terjadi pada orang-orang yang kurang maksimal dalam pencapaian kinerjanya, namun bisa juga muncul pada pribadi yang telah mencurahkan seluruh potensinya. Nah, hal terakhir inilah yang oleh sebagian sahabat kita belum mampu diterima secara rasional. Karena memang mereka sangat berharap dengan kerja keras maka prestasi akan mudah dicapai. Lalu kenapa hal ini bisa terjadi? Apa ada yang kurang pada setiap ikhtiar yang kita lakukan?

Apa yang sering muncul dalam setiap usaha pencapaian

1. Arogansi: setiap kita diberikan potensi dan kelebihan, hal inilah yang mampu kita optimalkan dalam mencapai kesuksesan. Namun kadang kita terlalu percaya diri dengan apa yang kita miliki sekarang, sehingga terbutakan untuk melihat muatan positif yang dimiliki oleh lingkungan.

2. Fokus pada yang besar: Konteks ”besar” bisa dimaknai sebagai hal-hal yang menuntut energi lebih untuk menyelesaikannya. Oleh sebab itu, kita cerderung mengesampingkan hal sederhana, yang bisa jadi adalah bagian yang tidak dapat dapat dipisahkan dari proses tersebut.

3. Lewat jalur umum: Sukses di masa lalu, entah itu dicapai oleh kita atau orang lain, seringkali kita imitasi. Bisa jadi kita berpendapat bahwa jalur tersebut sudah terbukti tokcer untuk bisa berhasil. Namun sekarang coba anda bayangkan berapa banyak orang yang akhirnya menempuh jalur tersebut, yang membuat jalur jadi padat, macet, lambat, dan malah jadi kurang efisien.

Hal diatas bisa jadi juga terjadi pada anda, sahabatku. Oleh sebab itu maka alangkah baik jika kita mampu melihat sisi tersebut dan melakukan gebrakan besar atas apa yang kita ingin kerjakan saat ini. Tetapi bukan berarti hal tersebut akan selalu berbuah manis, kenapa? Karena ada sesuatu diluar tanggungjawab kita, dan bisa menentukan hasil dari seluruh kinerja yang telah kita kerjakan.

Anggapan yang terlalu manusiawi

  1. Take 100% responsibility of our live: Beberapa dantara kita ada yang menganggap bahwa apa yang kita usahanya selama ini adalah sepenuhnya hasil ihktiar yang kita lakukan, sehingga kadang ke-aku-an ini muncul ketika sukses itu tiba.
  2. Your Success is on our Hand: Oleh karena itu, ada diatara sahabat kita yang begitu mantap dengan apa yang mereka miliki saat ini. Namun hal tersebut lagi-lagi dimaknai secara manusiawi bahwa hak itu metlak dari hasil kerja keras, atau kalau boleh saya menciplak bahasanya tukul arwana (presenter empat mata ) sebagai kristalisasi keringat yang hanya oleh kita.

Nah, kontek manusiawi ini yang nantinya banyak membuat kita merasakan sebuah kekecewaan yang sangat dalam jika yang dihasilkan atas kerja keras kita bukan keberhasilan, namun kegagalan. Kembali lagi bahwa seringkali kita berfikir, hanya dengan kerja keras, kerja cerdas, dan optimalisasi potensi akan selalu membawa kita pada hasil yang positif. Apakah seperti itu:

  1. Hanya 99%: Sukses yang kita dapatkan saat ini adalah hasil dari 99% usaha optimal kita dalam memberdayakan diri dan lingkungan. Nah, artinya apa bahwa ada 1% yang membuat, menentukan, dan memutuskan apakah 99% yang telah kita lakukan bisa menjadi 100 % atau tidak. Inilah yang saya sebut sebagai hak veto, yang hanya dimiliki oleh penguasa alam, pencipta segala sesuatu yang menentukan alur bagaimana segala sesuatu itu bergerak, inilah faktanya.
  2. Keyakinan: hanya keyakinan untuk selalu pasrak terhadap apa yang telah ditetapkan, mampu membuat kita menjadi pribadi yang bijak, bahwa sebenarnya yang disebut sebagai kegagalan itu tidak ada, karena bisa jadi hak tersebut memang bukan untuk kita.
  3. Modal berfikir integratif: dengan kondisi inilah maka sebagai manusia kita harus mampu berfikir integratif, bahwa walaupu kita ini hidip didunia, namun jangan hanya berfikir secara duniawi saja, walaupun kita ini manusia tulen, namun jangan berfikir terlalu manusiawi. Karena hak veto bukan kita yang memiliki, bikan kita yang menentukan, melainkan Dzat segala Maha. Allah SWT.

About forumkuliah

Dosen, trainer, writer

Posted on February 5, 2009, in Artikel Motivasi. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: