Mengurai Kegamangan

Katakanlah: “Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudaratan kepada kita dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): “Marilah ikuti kami”. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam, (Al Quran Al Karim Surah Al An’aam ayat 71)

Sahabat sejati, jika kita melihat kondisi bangsa saat ini terasa bahwa setiap kita merasa ada yang salah dengan jamannya, ada yang keliru dengan masanya, segala sesuatu berjalan seolah-olah kita telah berada pada dunia yang lain, dunia tanpa nurani, dunia tanpa perasaan, dunia tanpa malu dan belas kasih. Gejolah jaman ini pula yang memberikan kita persimpangan irasional yang memberikan sahabat sejati pilihan, akan mengikuti alur ini dan mengatakan memang jaman telah berubah. Karena mungkin, ingin dipersepsikan atau dicitrakan sebagai orang ”modern”, atau mencoba untuk memegang teguh idealisme, dan mendeskripsikan ulang makna modern, walaupun harga sosial (sosial cost) yang harus dibayar kadang terlalu mahal dan berharga.

Pelajaran macam apa yang kita bisa kita ambil dari jaman yang menurut sebagian pemikir modern sebagai jaman millenium, lebih beradap dan rasional ini. Pelajaran tentang perang yang setiap saat dipertontonkan dari tingkat daerah (Pilkada), pelajar dengan geng motor dan tawurannya, media dengan setumpuk berita kriminalnya, bunuh diri pemerkosaan, dukun palsu, penggadaan uang, sampai kasus suap yang melibatkan aparat penegak hukum, bincang politik yang senantiasa dipenuhi kritik sosial dan penghinaan serta kecaman pada sesama bangsa atas nama demokrasi berpendapat, sinetron yang membawa tema-tema cinta remaja, demo mahasiswa yang berakhir rusuh dan berujung pada kematian, konser musik yang seringkali menimbulkan konflik dan kerusuhan antar penonton, atau sesuat yang beraroma wanita dan sex, seperti hebohnya foto artis di internet, dan mungkin juga fenomena goyang gergaji dewi persik, yang konon dulunya adalah seorang qori’ah. Pelajaran inikah yang harus diterima anak bangsa, sahabat sejati. Mungkin ya, atau tidak (salah).

Sahabat sejati, disadari atau tidak inilah realita lingkungan kita. Kenyataan yang seringkali membuat kita gamang, bimbang dan bahkan bingung dalam memberikan kesan terhadap setiap peristiwa. Kegamangan dalam mencerna setiap kondisi sebagai sesuatu yang wajar, namun dalam benak kita terkadang bermunculan beragam pilihan perilaku atas apa yang terjadi saat ini. Dalam kegamangan ini kita seperti dihadapkan pada sebuah terowongan yang tanpa ujung, gelap dan terasa panas. Dalam kondisi ini banyak sahabat sejati yang kemudian salah mengambil jalan, keliru memilih keputusan, yang menyebabkan kegagalan dalam membangun diri dan mencapai sukses sejati.

Kedewasaan adalah kunci yang pertama. Kedewasaan bukan hanya berkesan 17 tahun keatas sehingga kita bebas mengakses situs porno, pacaran bebas atau nonton film vulgar. Kedewasaan bukan hanya kulit keriput, rambut memutih, telinga yang telah tuli, dan mata yang mulai rabun, ditambah dengan badan yang menjadi bongkok. Psikolog Ellen Greenberger dan teman-temannya telah mengembangkan sebuah konsep kedewasaan yang menekankan tiga dimensi: (1) kemampuan bekerja/berkarya sesuai apa yang mereka miliki; (2) kemampuan berinteraksi dengan orang lain; (3) kemampuan memberi kontribusi terhadap kehidupan bersama.

Dimensi yang pertama mencakup percaya pada diri sendiri dan mampu berkarya sesuai dengan bakat yang mereka miliki. Dimensi kemampuan berinteraksi dengan orang lain meliputi kemampuan berempati terhadap orang lain, kemampuan untuk percaya hal ini termasuk kesediaan untuk bergantung pada orang lain, dan mau mengakui situasi yang beraneka ragam yang mungkin membatasi kemampuan untuk percaya), dan kemampuan menampilkan sikap yang tepat di dalam tugas yang beraneka-ragam. Sementara dimensi ketiga, yakni kecakapan memberi kontribusi terhadap kehidupan bersama, meliputi komitmen sosial (yakni, mengembangkan perasaan berkomunitas, bekerja demi tujuan, dan mampu membentuk persekutuan dengan orang lain), keterbukaan terhadap perubahan sosial-politik, dan toleran terhadap perbedaan-perbedaan di dalam diri orang lain menerima orang lain dalam hal siapa dan apa mereka, serta sensitive terhadap perbedaan-perbedaan ini.

Penerimaan Diri adalah kunci yang kedua. Seringkali konsep ”pokoke melu” (yang penting ikut) membuah sahabat sejati menjadi kurang menghargai pendirian personal, sehingga cenderung ikut-ikutan trent yang terkadang tidak sesuai dengan konsep diri kita. Lingkungan dengan beragam informasi baik melalui media, kontruksi sosial masyarakat, opini publik, yang setiap hari kita serap haruslah mendapatkan alokasi kebijakan yang rasional sesuai dengan konsep diri, moralitas dan etika. Penerimaan diri adalah sejauh mana seorang individu mampu mengenali karateristik pribadi dan menggunakannya untuk kelangsungan hidupnya. Penerimaan diri ini ditunjukkan oleh seseorang dalam mengakui setiap jengkal kelebihannya dan begitu juga kelemahannya, tanpa menyalahkan orang lain, dan ingin terus menerus mengmbangkan dirinya. Penerimaan diri merupakan sarana terpi dalam rangka perluasan aktualisasi diri (Carson dan Butcher, 1992). Masih menurut Carson dan Butcher penerimaan diri mampu digunakan sebagai sarana untuk mengurai masalah, dan memecahkan kebingungan dan kebimbangan atau dalam hal ini bisa disebut sebagai keadaan yang tidah harmonis (inconcruence). Penerimaan ini memiliki manfaat dalam memberikan konsep diri yang positif, sehingga mampu mengolah perbedaan-perbedaan yang ada dalam lingkungan, dan mampu menyesuaikan diri dengan keputusan yang tepat (Calhoun dan Acocella, 1990). Nah sahabat sejati dengan inilah kita akan mampu mensikapi setiap kejadian dan perubahan dengan positif. Kecendrungan dalam menyalahkan lingkungan yang memiliki efek negatif bisa dihindari.

Kembali Kepada Allah: Setiap sesuatu ada yang menciptakan, mobil, motor, rumah, komputer, dan lainnya. Nah, jika telah usang, atau bahkan rusak maka orang atau yang ahli dalam mengelola barang tersebut akan menjadi tempat berlabuh agar nampak baru kembali, segar kembali. Begitupun manusia jika raga dan jiwa telah mulai usang, lelah dengan segala kepenatan dan kemunafikan dunia, maka kita juga harus kembali pada dzat yang membentuk kita, yaitu Allah SWT.

Akhirnya sampailah sahabat dalam masa hidup -dibawah naungan al-Qur’an- kepada keyakinan yang pasti bahwa tidak ada kebaikan dan kedamaian bagi bumi ini, tidak ada kesenangan bagi kemanusiaan, tidak ada ketenangan bagi manusia, tidak ada ketinggian, keberkahan dan kesucian dan tidak ada keharmonisan antara undang-undang alam dengan fitrah kehidupan melainkan dengan kembali kepada Allah. (Armansyah, Juli 2007).

Eksplorasi mengenai apa yang telah Allah gariskan bisa dimunculkan dari Alquran, sebagai kitab utama dan pegangan keimanan sahabat sejati sekalian. Islam mengendalikan dengan al-Qur’an ini dengan konsep-konsep baru yang dibawa oleh al-Qur’an dan dengan syariat yang dikembangan dari konsep ini. Yang demikian ini melahirkan manusia-manusia yang lebih agung daripada kelahirannya sendiri secara fisik. All-Qur’an telah melahirkan bagi manusia pandangan yang baru tentang alam dan kehidupan ini, tentang nilai dan tatanan, sebagaimana ia telah melahirkan bagi kemanusiaan sebuah realitas sosial yang unik, yang menjadi mulia hanya semata-mata konsepsinya sebelum ditumbuhkan sebagai manusia baru oleh al-Qur’an. Sebuah realitas sosial yang bersih dan indah, yang agung dan luhur , yang lapang dan toleran, yang realistis dan positip, yang seimbang dan harmonis, yang sama sekali tidak terbayang dalam hati manusia seandainya Allah tidak menghendakinya dan merealisasikannya dalam kehidupan mereka, dibawah naungan al-Qur’an.

Kedepan sebagai anak bangsa kita semua berharap bahwa jaman yang ada ini menuju arah yang benar, geliat konflik yang terjadi akan menuju pada satu titik keseimbangan yang berguna bagi lebih banyak orang.

About forumkuliah

Dosen, trainer, writer

Posted on February 5, 2009, in Artikel Motivasi, Interpersonal skill. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. pernah dalam suatu waktu, melihat berita di televisi. anak balita menderita luka bakar serius disekujur tubuh dikarenakan ibunya yang hanya seorang penjual bakso yang menjadi korban penertipan PKL dikejar2 pamong praja dan sang ibu ditarik rambutnya oleh salah satu polisi praja tersebut sehingga gendongan sanganak terlepas sehingga api yang ada di gerobak baksonya mengenai tubuh anak dan tangan ibunya…astaghfirllah….
    sebuah kejadian yang ironis dalam hidup ini. seorang polisi pamong praja seolah seperti robot yang tak punya hati saat menjalankan tugas…seakan rakyat kecil begitu terdholimi..mencari rizki aja sudah begitu susah, masih saja dihalang-halangi…seorang polisi yang harusnya mengayomi malah menjadi momok yang begitu menakutkan, merusak, memburu, bahkan menyakiti…
    tak takutkah mereka pada doa-doa orang yang teraniaya..hidup memang begitu hampa tanpa kedamaian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: