Motivasi Vs Demotivasi

Sahabat, dalam menjalankan aktivitas profesi kita di kantor terkadang ada masa dimana kita sebagai pelakunya merasakan hal yang kurang positif, lemah, letih, lesu, lunglai, loyo, lemot, dan lainnya. Rasa sedih, kecewa, demotivasi memang bisa menimpa siapa saja. Begitu pula sahabat sekalian dan saya. Saya pun, yang memiliki kompetensi dan profesionalisme dalam memberikan training motivasi untuk sahabat-sahabat saya di banyak institusi, ternyata merasakan juga bagaimana kondisi ketika penyakit mental itu muncul. Selama ini saya menganggap diri saya, tanpa bermaksud menyombong, adalah orang yang positif dan selalu mencoba untuk memiliki passion dalam setiap langkah hidup saya baik dalam kerja ataupun keluaraga – setidaknya saya selalu berusaha untuk berpikir positif. Saat ini, saya merasakan bahwa lingkungan tempat saya bekerja telah mulai berubah, dengan pergantian SDM, dan manajemen, dan ini membawa sebuah perubahan yang menurut perpektif subyektif saya, cenderung tidak benar, karena apa yang telah dibangun oleh para karyawan sebelumnya, tidak menjadi pijakan atas penanamanan nilai dan sistem yang saat ini ada.

Memang, ada benarnya bila dikatakan motivasi itu seperti iman, turun naik. Semua itu tergantung individu bagaimana untuk mengatasinya. Karena hanya individu itu sendirilah yang bisa memberikan motivasi untuk dirinya, orang lain hanyalah sebagai sarana. Saya suka sekali akan konsep dimana setiap pagi saat bangun tidur kita mengharuskan diri kita sendiri untuk memilih apakah kita ingin bahagia atau sedih hari itu. Tentu saja orang yang berpikiran positif, tanpa ragu, akan memilih untuk bahagia. Ataupun pada saat akan beranjak tidur kita berfikir dan memilih untuk diberikan esok hari yang membawa kebaikan bukan hanya untuk kita tapi juga untuk orang lain.

Motivasi sangat dipengaruhi oleh cara pandang kita terhadap sesuatu. Motivasi adalah keadaan dalam diri individu yang memunculkan, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku. Dengan kata lain menurut Kartini Kartono adalah dorongan terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu. Dengan dorongan (driving force) di sini dimaksudkan: desakan yang alami untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidup dan merupakan kecenderungan untuk mempertahankan hidup.

Sedangkan menurut Muslimin motivasi yang ada pada setiap orang tidaklah sama, berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Untuk itu, diperlukan pengetahuan mengenai pengertian dan hakikat motivasi, serta kemampuan teknik menciptakan situasi sehingga menimbulkan motivasi/dorongan bagi mereka untuk berbuat atau berperilaku sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh organisasi.

Untuk menghindarkan kekurangtepatan penggunaan istilah motivasi ini, perlu dipahami pendapat M. Manullang tentang adanya istilah-istilah yang mirip dan sering dikacaukan tentang motivasi tersebut antara lain: motif, motivasi, motivasi kerja, dan insentif.

Paling tidak kita harus tahu bahwa seseorang melakukan sesuatu karena didorong oleh motivasinya. Ada tiga jenis atau tingkatan motivasi seseorang, yaitu:

Pertama, motivasi yang didasarkan atas ketakutan (fear motivation). Dia melakukan sesuatu karena takut jika tidak maka sesuatu yang buruk akan terjadi, misalnya orang patuh pada bos karena takut dipecat, orang membeli polis asuransi karena takut jika terjadi apa-apa dengannya, anak-istrinya akan menderita.


Motivasi kedua adalah karena ingin mencapai sesuatu (achievement motivation). Motivasi ini jauh lebih baik dari motivasi yang pertama, karena sudah ada tujuan di dalamnya. Seseorang mau melakukan sesuatu karena dia ingin mencapai suatu sasaran atau prestasi tertentu.

Sedangkan motivasi yang ketiga adalah motivasi yang didorong oleh kekuatan dari dalam (inner motivation), yaitu karena didasarkan oleh misi atau tujuan hidupnya. Seseorang yang telah menemukan misi hidupnya bekerja berdasarkan nilai (values) yang diyakininya. Nilai-nilai itu bisa berupa rasa kasih (love) pada sesama atau ingin memiliki makna dalam menjalani hidupnya. Orang yang memiliki motivasi seperti ini biasanya memiliki visi yang jauh ke depan. Baginya bekerja bukan sekadar untuk memperoleh sesuatu (uang, harga diri, kebanggaan, prestasi) tetapi adalah proses belajar dan proses yang harus dilaluinya untuk mencapai misi hidupnya.

Sahabat, dalam konteks kejadian yang saya alami, menurunnya motivasi saya saat itu bukan sekedar uang atau insentif. Artinya apa karena ada beberapa sahabat kita yang masih menganggap bahwa uang dan mendukung materiil yang lain merupakan wujud utama seseorang dalam menjalankan aktivitasnya di kantor. Oleh karena itu, isu yang berkembang seputar kepegawaian adalah tentang, apakah ada gaji ke-13, bonus penjualan, THR, komisi, tips, dan lainnya yang selalu dikaitkan dengan keberadaan alat tukar dan dewa yang disebut uang.

Penelitian yang dilakukan dalam lima puluh tahun terakhir menunjukkan bahwa motivasi kerja tidak semata didasarkan pada nilai uang yang diperoleh (monetary value). Ketika kebutuhan dasar (to live) seseorang terpenuhi, maka dia akan membutuhkan hal-hal yang memuaskan jiwanya (to love) seperti kepuasan kerja, penghargaan, respek, suasana kerja , dan hal-hal yang memuaskan hasratnya untuk berkembang (to learn), yaitu kesempatan untuk belajar dan mengembangkan dirinya. Sehingga akhirnya orang bekerja atau melakukan sesuatu karena nilai, ingin memiliki hidup yang bermakna dan dapat mewariskan sesuatu kepada yang dicintainya (to leave a legacy).

Nah, Sahabat jika saya boleh berpendapat, seberapa sering saya memberikan motivasi baik pada diri saya ataupun orang lain. Jika hal itu hanya bersifat penghargaan yang berupa fisik maka motivasi ini akan hanya bertahan sementara waktu, jika dampak dari penghargaan ini telah mulai hilang (biasanya cepat), maka kita akan kembali pada situasi demotivasi. kesimpulannya adalah semua tergantung dari PILIHAN kita. Bagaimana kita ingin menjalani hidup ini. Stress, kecewa, sedih, demotivasi boleh-boleh saja, karena itu adalah hal yang manusiawi. Namun jangan berlarut-larut atau berkelanjutan. Hal ini penting untuk disadari bahwa sebagai insan berkualitas, maka setiap apa yang kita lakukan harus memilki kualitas yang positif, bergembiralah, tersenyumlah, sehingga walaupun kita diberikan kesempatan hidup yang hanya satu kali, namun yang sekali ini mampu membuat kita terberdayakan dan teraktualisasikan dengan baik, memperoleh kualitas dunia dan akhirat. Inilah yang mampu memberikan motivasi internal yang sangat kuat untuk kita, karena pada intinya kepentingan atas motivasi ini kita sendiri yg akan menikmati.

About forumkuliah

Dosen, trainer, writer

Posted on February 5, 2009, in Artikel Motivasi, Artikel Pelatihan, Interpersonal skill, Kepribadian Manajerial. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: