Optimis Vs Realistis

Pernah dalam sebuah workshop, “Meraih dan Mengelola Karir”, terlontar pertanyaan bagus sekali dari audience saya. Pak, sebagai lulusan baru saya, merasa bingung dalam menentukan pilihan atas masa depan karir saya. Satu sisi, saya merasakan harus menjadi pribadi yang optimis dalam memadang setiap tantangan karir yang ada didepan mata. Namun, disisi yang lain saya merasa bahwa saya penuh dengan keterbatasan, baik secara personalitas ataupun sosial, sehingga kemudian saya harus realistis dengan keadaan tersebut. Nah, menurut bapak manakah jalan yang terbaik bagi saya yang baru saja akan menempuh jenjang karir, saya harus optimis atau realistis”.

Sungguh sebuah pertanyaan yang menarik untuk diulas bersama. Karena apa, banyak orang yang karena sangat optimis, dan kemudian gagal total dalam karirnya, memiliki alasan, apa yang dilakukannya selama ini sebagai hal yang tidak realistis, diluar jangkauannya, atau kalau saya boleh bilang “seperti punguk merindukan bulan”. Dan akhir dari semua itu adalah penyesalan yang mendalam, menyalahkan diri sendiri dan lingkungan, akhirnya optimisme yang diawal terbangun dengan baik, bertranformasi menjadi pesimisme, ketakutan, dan bukan mencoba untuk realistis.

Optimisme adalah sebuah pemodelan mental yang berkembang dari rasa percaya diri yang tinggi, diperkuat dengan ketrampilan teknis dan nonteknis, dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada dalam mengambil langkah dan keputusan. Sehingga persoalan optimis dan realistis ini sebenarnya merupakan suatu bangun yang tidak bisa dipisahlkan satu sama lainnya. Artinya apa, jika kita sebagai pribadi telah memiliki optimisme yang tinggi berarti dengan kematangan berfikir dan bertindak maka kita akan juga memikirkan kondisi lingkungan, situasi, dan efek dari keputusan yang kita buat. Contohnya, ada seorang sarjana yang memiliki orientasi karir kedepan yang sangat luar biasa Meskipun perempuan dia memiliki effort yang tinggi, dan tidak mau tergantung pada orang lain. Akhirnya setelah lulus kuliah dia memiliki orientasi ingin memiliki karir yang baik sekaligus juga pendapatan yang cukup untuk memuluskan tujuan hidupnya, bahagia di dunia dan di akhirat. Jakarta, adalah pilihan utama yang ada dibenaknya sebagai tempat untuk menuai mimpinya menjadi kenyataan. Benar saja, setelah beberapa bulan yang penuh perjuangan akhirnya dia mampu berkarir di sebuah perusahaan di Jakarta. Setelah beberapa lama tinggal dan berkarir di Ibu Kota dia merasakan kondisi yang kurang menyenangkan, seperti kondisi umum jakarta. yaitu banjir, macet, bising, polusi, adalah hal-hal yang walaupun selama ini ada, namun baru disadarinya telah membuat kehidupannya sebagai pribadi terganggu. Meski demikian, dia mencoba untuk tetap optimis, karena keputusan untuk berkarir di jakarta adalah pilihannya, bukan oleh siapa-siapa. Dia tetap ingin mempertahankan optimisme yang telah dibangunkan diawal karir dulu, dengan tetap mengatakan dalam hatinya “saya bisa”. Namun, kegamangan mulai timbul kembali, disatu sisi dia ingin tetap bertahan, tapi disisi yang lain dia ingin keluar dari kehidupan yang saat ini ada dan kembali pulang. Akhirnya pilihan terakhir yang dia putuskan adalah keluar dari pekerjaannya, melepas karirnya, dan kembali pulang ke daerah asal, dan kembali memikirkan langkah dia selanjutnya.

Sahabat, setiap manusia dibekali dengan kemampuan berfikir dan memaknai sesuatu. Kerangka berfikir ini diasah dan dipertajam dengan sensitifitas setiap personal dalam mencermati fenomena lingkungan dengan pengalaman dan belajar melalui bangku pendidikan formal atau nonformal. Dengan kemampuan inilah setiap pribadi menjalani setiap alur dalam kehidupannya. Bekal yang cukup, akan memunculkan pemikiran yang cemerlang, dan memberikan manfaat jangka panjang yang positif. Nah, dengan modal itulah setiap manusia dibekali dengan kemampuan dalam menelaah, mengurai dan menyelesaikan masalah, baik secara individu ataupun karena hubungan relational dengan anggota masyarakat yang lainnya. Didalamnya, ada beragam hal seperti pertimbangan dan pengambilan keputusan. Setiap saat, dalam waktu hidupnya manusia dihadapkan pada proses pengambilan keputusan. Dalam contoh diatas, dapat kita cermati bahwa ketika ada pertanyaan dalam hati sarjana baru tersebut, kemana dia akan berkarir, dengan beragam pengalaman, dan informasi, maka dia mengambil keputusan untuk berkarir di Jakarta. Nah, setelah keputusannya ini diimplementasikan maka timbul penyesuaian, proses adaptasi dengan keputusan, dan ketika pada titik tertentu, maka pasti muncul permasalahan, atas apa yang kita putuskan sebelumnya. Pada saat itu, kembali kita harus mengambil keputusan yang baru. Artinya apa, bahwa kita sepanjang hidup selalu dan tidak bisa tidak akan dihadapkan pada permasalahan dari apa yang kita putuskan, dan setiap kali itu terjadi maka kita harus mengambil keputusan yang baru, reorientasi langkah dan tujuan. Untuk mencapai penyesuaian terbaik untuk sukses karir dan hidup.

Pada dasarnya setiap insan diharapkan untuk tetap optimis dalam memandang kehidupan dan karirnya. Optimis berarti memiliki konsep positif, berani mengambil resiko, memiliki rasa percaya diri, semangat motivasi yang baik, dan selalu mampu mengontrol emosi dalam setiap situasi krisis. Optimisme ini akan tercermin dari sikap dan perilaku kita sebagai insan, dengan selalu memiliki visi kedepan untuk berkembang dan membangun kualitas hidup yang lebih baik. Sahabat, optimisme akan memberikan kekuatan yang lebih pada seseorang dalam mencapai tujuannya. Semangat yang didasari oleh keinginan yang kuat untuk sukses dan memberikan kebaikan dan manfaat tidak hanya untuk dirinya, namun juga orang di sekitarnya.

Dalam kontek pencapaian sukses, maka jika kita bicara optimis dan realistis, adalah dua hal yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahnya. Realistis adalah memandang sesuatu sebagai sebuah hal yang nyata terjadi, tidak bisa dipungkiri, dikaburkan atau dibuat-buat. Seperti contohnya, kenaikan harga bahan pokok, akibat adalanya kenaikanan BBM. Jumlah pengangguran yang semakin banyak, akibat banyak perusahaan yang bangkrut akibat biaya produksi tinggi, hal ini mengakibatkan pasar kerja menjadi semakin sempit. Nah, ini adalah realitas ekonomi, dan masik banyak kenyataan lainnya akibat berubahnya waktu dan zaman, perkembangan teknologi dan orientasi kebutuhan dan keinginan manusia. Namun, realitas itu tidak selalu identik dengan pesimis, sehingga harus dibenturkan dengan konsep realitis. Artinya apa, meskipun terkadang realitas yang ada saat ini cenderung kearah yang kurang menguntungkan, kita harus mempunyai persepsi bahwa lingkungan akan membawa sebuah nilai sukses karir, yang mampu membuat kita sebagai pribadi yang optimis.

Untuk melihat hubungan keterkaitan antara optimis dan realistis, saya akan mencoba memberikan urutan proses pembangunan semangat optimisme dalam diri seseorang:

  1. Self Awareness : Para tahapan pertama ini, seseorang belum menentukan apakah dia akan menjadi optimis atau pesimistis terhadap masa depan karir dan kehidupannya. Langkah awal yang sangat menentukan, dimana seseorang mulai memberikan penilaian terhadap dirinya sendiri, kelebihan dan kekurangannya. Kejujuran dan kecerdasan emosi adalah hal yang paling penting dalam tahap ini. Kesadaran akan diri yang berkemampuan, bertalenta dan memiliki potensi adalah output yang diinginkan. Sehingga, keputusan yang diambil adalah muncul percaya diri dalam dirinya.
  2. Self Orientation: Pada tahapan kedua ini, kita telah mampu untuk menentukan orientasi tujuan yang akan dicapai. Biasanya kita menentukannya lebih dari dua, atau bahkan 100 atau lebih. Nah, dalam tahap ini penting kiranya kita untuk mencoba mensederhanakan tujuan yang akan kita capai. Artinya apa, sadar atau tidak, keinginan manusia itu sangat beragam, sehingga bisa jadi kita terdorong untuk segera memenuhinya dalam waktu yang hampir bersamaan. Saya kira itu sangat tidak realistis, kalaupun bisa pasti butuh energi yang super untuk mencapainya. Pasti ada yang harus dikorbankan. Agar apa yang kita putuskan dan kita lakukan dapat lebih fokus, maka perlu untuk menentukan maksimal 3 orientasi. Dengan mempertimbangkan sesuai dengan kemampuan, dan potensi yang kita miliki. Hal tersebut dimaksudkan untuk memperbesar prosentase pencapaian tujuan.
  3. Enviroment Awareness : Setelah kita mensederhanakan orientasi tujuan karir dan kehidupan kita, maka langkah selanjutnya adalah mecermati sejauh mana setiap orientasi tersebut bisa dicapai dan berapa prosentasi keberhasilannya. Walaupun kita, tidak mnghitungnya secara matematis, namun kita bisa merasakannya. Oleh karena itu, sangatlah bijak sebelum menentukan tujuan, maka kita harus melihat lingkungan luar diri kita yang mampu menunjang dan mendorong agar tujuan kita bisa tercapai. Lingkungan akan memberikan informasi kepada kita tentang keadaan saat sekarang, baik itu sosial, ekonomi, polotik, budaya, atau agama. Dengan modal itulah kita kemudian, mecoba untuk melakukan beragam penyesuaian sebagai sarana agar apa yang kita inginkan bisa tercapai dan mendapat dukungan dari lingkungan. Pada tahap ketiga inilah diperlukan kemampuan untuk realistis, melihat lingkungan dengan sisi positif dan negatifnya dengan penuh kejujuran. Karena itu penyesuaian adalah hal yang paling penting dalam tahap ini, dan dibutuhkan kreatifitas, agar apa yang kita inginkan tetap bisa terwujud.
  4. Self Dicision: Pada akhirnya, setelah beragam informasi dari lingkungan kita dapatkan, dan berbagai penyesuaian terhadap orientasi, maka tiba waktunya kita untuk mengambil keputusan. Karena, telah ditentukan dengan melihat segala aspek maka seharusnya kita mampu untuk menumbuhkan sikap optimisme terhadap apa yang kita putuskan. Dengan demikian realitis adalah pendukung keputusan yang optimis. Tanpa itu, bisa jadi optimisme itu akan berkembang pada ranah pribadi, dan lemah dalam tataran aplikasi, karena mengesampingkan pertimbangan lingkungan, sebagai alat pendukung keputusan.

Sahabat, setiap kita selalu akan berproses kedalam empat tahap ini. Dan seperti halnya siklus, maka proses ini kan terus berlanjut. Dan semakin banyak keputusan yang kita ambil, maka semakin banyak informasi yang kita butuhkan dan kita peroleh dalam mendukungnya. Maka Konfusius pernah berucap ” Semakin banyak orang mengambil keputusan, Maka Semakin Bijaklah Orang Tersebut”. Sahabat, mari kita bangun optimisme dalam diri kita, namun tetap memandang dengan realistis keadaan yang ada di lingkungan kita, sehinggga kita mampu mencapai karir yang baik, yang mendukung idealisme kita sebagai seorang individu, sukses karir, sukses amal dan sukses akhirat dan tentu saja menjadi orang bijaksana seperti apa kata Konfusius.

About forumkuliah

Dosen, trainer, writer

Posted on February 5, 2009, in Artikel Motivasi, Artikel Pelatihan, Interpersonal skill, Kepribadian Manajerial. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. saya juga sering denger dr temen saya, “jadi orang itu yg realistis jgn terlalu optimis apalagi pesimis…”
    nah, menurut saya pernyataan temen saya itu gk bener tapi jg gk salah.
    saya sempet kepikiran sama kata-kata itu. akhirnya saya dapat menyimpulkan sebagai berikut :
    dalam memulai sebuah usaha seharusnya kita bersikap Optimis, karena itu akan menimbulkan sugesti bahwa kita mampu untuk melakukanya. Namun bila usaha itu gagal kita tidak perlu menjadi pesimis, namun kita harus realistis dalam menerima kenyataan. tidak ada pengusaha sukses yg hanya satu kali saja melakukan usaha dan langsung berhasil.
    terimakasih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: