Quantum Learning

Seperti kita ketahui, di dalam dua tiga dasa warsa terakhir ini perkembangan teknologi itu berjalan dengan amat cepat. Teknologi yang di hari kemarin masih dianggap modern (sunrise technology) bukan tak mungkin hari ini sudah mulai basi (sunset technology)

Teknologi baru terutama multimedia mempunyai peranan semakin penting dalam pembelajaran. Banyak orang percaya bahwa multimedia akan dapat membawa kita kepada situasi belajar dimana learning with effort akan dapat digantikan dengan learning with fun. Apalagi dalam pembelajaran orang dewasa, learning with effort menjadi hal yang cukup menyulitkan untuk dilaksanakan karena berbagai factor pembatas, seperti kemauan berusaha, mudah bosan dll. Jadi proses pembelajaran yang menyenangkan, kreatif, tidak membosankan, menjadi pilihan para guru/fasilitator. Jika situasi belajar seperti ini tidak tercipta, paling tidak multimedia dapat membuat belajar lebih efektif menurut pendap[at beberapa pengajar.

Pada saat ini kita semua memahami bahwa proses belajar dipandang sebagi proses yang aktif dan partisipatif, konstruktif, kumulatif,dan berorientasi pada tujuan pembelajaran , baik Tujuan Pembelajaran umum (TPU) maupun Tujuan Pembelajran Khusus (TPK) untuk mencapai kompetensi tertentu.

Sekolah-sekolah yang sudah mapan pada umumnya menggunakan teknologi multimedia di dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Pada beberapa tahun Yang lalu yang masih menggunakann Overhead Projector (OHP) dan menggunakn media Overhead Transparancy (OHT), pada saat ini menjadi tidak mode dan ditinggalkan. Beberapa kelebihan multimedia seperti tidak perlu pencetakan hard copy dan dapat dibuat/diedit pada saat mengajar menjadi hal yang memudahkan guru dalam penyampaian meterinya. Berbagai variasi tampilan/visual bahkan audio mulai dicoba seperti animasi bergerak, potongan video, rekaman audio, paduan warna dll dibuat untuk mendapatkan sarana Bantu mengajar yang sebaik-baiknya. Bahkan pada beberapa kesempatan telah diadakan ToT Multimedia dan juga In House Training.

1. Pengertian Quantum Learning

Pada awalnya istilah quantum hanya digunakan oleh pakar fisika modern( menjelang abad XX). Kemudian berkembang secara luas ke bidang-bidang kehidupan manusia lainya. Salah satunya quantum digunakan dalam bidang pembelajaran – learning – yang dikenal dengan sebutan Quantum Learning. Dalam fisika quantum, menurut Max Planck, untuk memperoleh total energi dalam bentuk yang benar, satu energi harus sebanding dengan frekuensi osilator, e = hj (disebut sebagai quanta atau quantum), f adalah frekuensi dan h adalah tetapan yang kecil sekali, mendekati nol.

Selanjutnya perbandingan fisika quantum dengan quantum learning. Quantum learning diperkenalkan oleh Bobbi DePorter. Quantum learning mengungkapkan bahwa setiap orang sebenarnya memiliki potensi otak yang sama, tinggal bagaimana cara mengolahnya. Menurut Quantum Learning terdapat tiga tipe modalitas belajar manusia, yaitu tipe visual, auditorial dan kinesthesia. Bila seseorang mampu mengenali tipe belajarnya dan melakukan pembelajaran yang sesuai maka belajar akan terasa sangat menyenangkan dan memberikan hasil yang optimal.

Quantum learning ialah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat. Beberapa teknik yang dikemukakan merupakan teknik meningkatkan kemampuan diri yang sudah populer dan umum digunakan. Namun, Bobbi DePorter mengembangkan teknik-teknik yang sasaran akhirnya ditujukan untuk membantu para siswa menjadi responsif dan bergairah dalam menghadapi tantangan dan perubahan realitas (yang terkait dengan sifat jurnalisme). Quantum learning berakar dari upaya Georgi Lozanov, pendidik berkebangsaan Bulgaria. Ia melakukan eksperimen yang disebutnya suggestology (suggestopedia). Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detil apa pun memberikan sugesti positif atau negatif. Untuk mendapatkan sugesti positif, beberapa teknik digunakan. Para murid di dalam kelas dibuat menjadi nyaman. Musik dipasang, partisipasi mereka didorong lebih jauh. Poster-poster besar, yang menonjolkan informasi, ditempel. Guru-guru yang terampil dalam seni pengajaran sugestif bermunculan.

Prinsip suggestology hampir mirip dengan proses accelerated learning, pemercepatan belajar: yakni, proses belajar yang memungkinkan siswa belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal, dan dibarengi kegembiraan. Suasana belajar yang efektif diciptakan melalui campuran antara lain unsur-unsur hiburan, permainan, cara berpikir positif, dan emosi yang sehat.

Quantum learning mencakup aspek-aspek penting dalam program neurolinguistik (NLP), yaitu suatu penelitian tentang bagaimana otak mengatur informasi. Program ini meneliti hubungan antara bahasa dan perilaku dan dapat digunakan untuk menciptakan jalinan pengertian siswa dan guru. Para pendidik dengan pengetahuan NLP mengetahui bagaimana menggunakan bahasa yang positif untuk meningkatkan tindakan-tindakan posistif – faktor penting untuk merangsang fungsi otak yang paling efektif. Semua ini dapat pula menunjukkan dan menciptakan gaya belajar terbaik dari setiap orang (Bobby De Porter dan Hernacki, 1992)

Selanjutnya Porter dkk mendefinisikan quantum learning sebagai “interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya.” Mereka mengamsalkan kekuatan energi sebagai bagian penting dari tiap interaksi manusia. Dengan mengutip rumus klasik E = mc2, mereka alihkan ihwal energi itu ke dalam analogi tubuh manusia yang “secara fisik adalah materi”. “Sebagai pelajar, tujuan kita adalah meraih sebanyak mungkin cahaya: interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya”.

2. Faktor-Faktor Yang Menunjang Kecerdasan Quantum

Kecaerdasan quantum adalah kecerdasan manusia yang mampu mengoptimalkan seluruh potensi diri secara seimbang, sinergi, dan komprehensif meliputi kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.

Kecerdasan intlektual adalah syarat minimum kompetensi. Kecerdasan intelektual dapat dikembangkan optimal dengan memahami meliputi pengenalan potensi otak manusia ang sangat besar : 100 milyard sel aktif sejak lahir, serta penyeimbangan otak kiri yang berpikir urut, parsial, dan logis dengan otak kanan yang berpikir acak, holistic, dan kreatif. Kemudian mengaktifkan lapisan otak reptile-instinctive, lapisan mamalia-feeling, dan lapisan neo cortex-berpikir tingkat tinggi. Otak sadar dan bawah sadar juga merupakan bagian penting untuk optimasi intelektual.

Berikutnya mellangkah ke multi-intelligence yang meliputi IQ,EQ, dan SQ. Accelerated Learning disarankan untuk mengembangkan IQ, mengenali emosi kemudian mengelolanya secara kreatif untuk meningkatkan EQ, refleksi transendensi dan realisasi adalah langkah utama untuk mengasah SQ.

3. Metode Quantum Learning

Quantum Learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, dan NLP dengan teori, keyakinan, dan metode kami sendiri. Termasuk di antarnaya konsep-konsep kunci dari berbagai teori dan strategi belajar yang lain, seperti:

· Teori otak kanan/kiri

· Teori otak three in one

· Pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestik)

· Teori kecerdasan ganda

· Pendidikan holistic (menyeluruh)

· Belajar berdasarkan pengalaman

· Belajar deengan symbol (Metaphoric Learning)

· Simulasi/permainan

Metode Quantum learning bisa mensugesti kerja otak kanan. Proses kerja otak kiri yang selalu bersifat logis, sekuensial, linear, dan mampu melakukan penafsiran abtrak dan simbolis, serta cara berpikirnya yang sesuai untuk tugas-tugas teratur, ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial, mendapatkan detail dan fakta, dan fonetik, dapat disesuaikan dengan cara berpikir otak kanan yang bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik. Cara berpikirnya sesuai dengan cara-cara untuk mengetahui yang bersifat non verbal, seperti perasaaan dan emosi, kesadaran yang berkenaan dengan perasaan (merasakan kehadiran suatu benda atau orang), kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreativitas, dan visualisasi (hal:38).

Menurut metode ini, memahami fungsi dan kerja kedua belahan otak sangat penting artinya. Orang yang mampu memanfaatkan kedua belahan otak ini juga cenderung seimbang dalam setiap aspek kehidupannya. Belajar terasa sangat mudah bagi mereka yang mempunyai pilihan, untuk menggunakan bagian otak yang diperlukan dalam setiap pekerjaan yang sedang dihadapi. Sebagian besar komunikasi diungkapkan dalam bentuk verbal atau tertulis, yang keduanya merupakan spesialisasi otak kiri, terutama bidang-bidang pendidikan, bisnis, dan sains cenderung berat ke otak kiri. Jika seseorang termasuk kategori otak kiri dan tidak melakukan upaya tertentu memasukkan beberapa aktivitas untuk otak kanan, maka ketidakseimbangan yang dihasilkannya dapat mengakibatkan stress dan juga kesehatan mental dan fisik yang buruk.
Metode ini menawarkan perlu dimasukkannya musik dan estetika dalam situasi belajar sebagai upaya mengimbangi kerja dari kedua bagian otak tersebut.Semua itu akan menghasilkan emosi positif, yang membuat otak anda lebih efektif. Emosi yang positif mendorong kekuatan otak, yang mengarah pada keberhasilan, yangselanjutnya dapat meningkatkan rasa hormat diri yang tinggi.

Jadi, menurut DePorter, manusia pada dasarnya memiliki kemampuan luar biasa untuk melampaui kemampuan yang ia perkirakan. Ini karena manusia memiliki potensi yang belum tergali, apalagi terasah. Untuk menggali potensi itu, menurut DePorter, lingkungan mesti mendukung agar proses belajar berlangsung mudah, menarik, dan menyenangkan. “Rasa aman dan saling percaya di antara murid dan guru merupakan hal esensial bagi proses belajar,” tutur DePorter.

Program ini bertumpu pada asumsi bahwa setiap orang memiliki potensi besar dan dapat berhasil baik di sekolah maupun dalam kehidupan –jika diberi peranti dan keyakinan untuk belajar dan tumbuh-berkembang, bahwa anak yang memiliki harga diri (self-esteem) positif akan belajar sangat cepat dan efektif. DePorter mengembangkan teknik untuk membantu menggempur kendala yang menghalangi seseorang untuk meraih sukses, seperti motivasi yang rendah, harga-diri yang kerdil, serta prestasi yang minim.

Banyak pelajar menganggap ruang kelas sebagai penjara, karena proses belajar yang tidak menyenangkan. Duduk berjam-jam mencurahkan perhatian dan pikiran pada mata pelajaran tak ubahnya duduk di atas bara api. Belajar dirasakan sebagai beban dan tidak nyaman. Bahkan, kata Bobbi DePorter, “Pada akhir sekolah dasar, kata belajar dapat membuat banyak siswa tegang dan takut.” Yang terjadi ialah anak menghambat pengalaman belajarnya secara terpaksa karena mengalami kebuntuan belajar (learning shutdown).

Dengan metode belajar yang diramunya dari sejumlah metode yang ada lebih dulu, DePorter mengubah proses belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan, sederhana, dan efektif. Lingkungan yang suportif akan membangkitkan harga diri siswa, sebaliknya kritik tajam akan “membunuh” proses belajar.

Ada beberapa teknik yang digunakan dalam metode Quantum Learning, antara lain menciptakan ruang belajar yang kondusif untuk membangun sugesti. Misalnya, memasang musik latar di dalam kelas, pelajar bisa duduk secara nyaman, membuka lebar-lebar partisipasi individu, serta menyediakan guru yang terlatih –bukan saja ia menguasai benar mata pelajarannya, tapi juga seni memberi sugesti.

Itu berarti antara pengajar dan pelajar mesti terjalin saling pengertian dan saling mempercayai. Hubungan timbal-balik itu menggambarkan kondisi internal dan eksternal murid. Di satu sisi, menurut DePorter, siswa perlu mengondisikan diri agar memiliki emosi positif ketika belajar. Di sisi lain, siswa perlu diberi motivasi agar dari dalam dirinya muncul semangat belajar.

Bila emosi positif –emosi adalah bagian penting dari kecerdasan seseorang– tidak dapat dibangun, ruang-ruang kelas tak lebih dari sekat-sekat yang membatasi pengembaraan intelektual seseorang. Murid menjadi loyo dan proses belajar menjadi membosankan. Karena itulah, DePorter mengatakan pada dasarnya setiap orang mampu belajar –baik di dalam kelas maupun dalam kehidupan nyata. Namun, untuk meraih sukses dalam belajar, keyakinan diri, rasa hormat, dan kepedulian terhadap individu merupakan hal vital yang harus dibangkitkan lebih dulu.

Karena itu pula, diajarkan ketrampilan hidup seperti berkomunikasi secara efektif, menjalin hubungan dengan orang lain, berlatih mendengarkan, memecahkan masalah, serta mengikuti petualangan di alam terbuka. Perbedaan paling pokok antara SuperCamp dan program sejenis lainnya terletak pada cara penyelenggara memfasilitasi perubahan sikap dan motivasi peserta terhadap sekolah. SuperCamp mengajarkan bagaimana cara belajar yang cepat dan efektif (learning-to-learn).

Melalui metode belajar yang mudah dipraktekkan, efektif, dan menyenangkan seseorang dirangsang semangatnya untuk berusaha keras menguasai materi yang ia pelajari. Ia tak ubahnya anak balita yang diberi mainan baru. Tanpa bertanya “ba bi bu”, ia langsung terdorong untuk mengutak-atik mainan itu karena ia ingin mengenalnya lebih dekat dan dari segala penjuru. Inilah yang disebut proses belajar menyeluruh atau global learning.

Kuncinya ialah karena bagi anak-anak itu belajar dan bermain tidaklah berbeda; mereka belajar dengan riang dan bebas stres. Kedua hal inilah yang ingin dihadirkan kembali oleh Quantum Learning di ruang-ruang belajar di sekolah, di rumah, maupun dalam kehidupan sosial yang nyata.

4. Implementasi Quantum Learning

Pada kaitan inilah, quantum learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, dan NLP dengan teori, keyakinan, dan metode tertentu. Termasuk konsep-konsep kunci dari teori dan strategi belajar, seperti: teori otak kanan/kiri, teori otak triune (3 in 1), pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestik), teori kecerdasan ganda, pendidikan holistik, belajar berdasarkan pengalaman, belajar dengan simbol (metaphoric learning), simulasi/permainan.

Bagaimana faktor-faktor umpan balik dan rangsangan dari lingkungan telah menciptakan kondisi yang sempurna untuk belajar apa saja. Hal ini menegaskan bahwa kegagalan, dalam belajar, bukan merupakan rintangan. Keyakinan untuk terus berusaha merupakan alat pendamping dan pendorong bagi keberhasilan dalam proses belajar. Setiap keberhasilan perlu diakhiri dengan “kegembiraan dan tepukan.”

Berdasarkan penjelasan mengenai apa dan bagaimana unsur-unsur dan struktur otak manusia bekerja, dibuat model pembelajaran yang dapat mendorong peningkatan kecerdasan linguistik, matematika, visual/spasial, kinestetik/perasa, musikal, interpersonal, intarpersonal, dan intuisi. Bagaimana mengembangkan fungsi motor sensorik (melalui kontak langsung dengan lingkungan), sistem emosional-kognitif (melalui bermain, meniru, dan pembacaan cerita), dan kecerdasan yang lebih tinggi (melalui perawatan yang benar dan pengondisian emosional yang sehat). Bagaimana memanfaatkan cara berpikir dua belahan otak “kiri dan kanan”. Proses berpikir otak kiri (yang bersifat logis, sekuensial, linear dan rasional), misalnya, dikenakan dengan proses pembelajaran melalui tugas-tugas teratur yang bersifat ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial, menempatkan detil dan fakta, fonetik, serta simbolisme. Proses berpikir otak kanan (yang bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik), dikenakan dengan proses pembelajaran yang terkait dengan pengetahuan nonverbal (seperti perasaan dan emosi), kesadaran akan perasaan tertentu (merasakan kehadiran orang atau suatu benda), kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreatifitas dan visualisasi.

Semua itu, pada akhirnya, tertuju pada proses belajar yang menargetkan tumbuhnya “emosi positif, kekuatan otak, keberhasilan, dan kehormatan diri.” Keempat unsur ini bila digambarkan saling terkait. Dari kehormatan diri, misalnya, terdorong emosi positif yang mengembangkan kekuatan otak, dan menghasilkan keberhasilan, lalu (balik lagi) kepada penciptaan kehormatan diri.

Dari proses inilah, quantum learning menciptakan konsep motivasi, langkah-langkah menumbuhkan minat, dan belajar aktif. Membuat simulasi konsep belajar aktif dengan gambaran kegiatan seperti: “belajar apa saja dari setiap situasi, menggunakan apa yang Anda pelajari untuk keuntungan Anda, mengupayakan agar segalanya terlaksana, bersandar pada kehidupan.” Gambaran ini disandingkan dengan konsep belajar pasif yang terdiri dari: “tidak dapat melihat adanya potensi belajar, mengabaikan kesempatan untuk berkembang dari suatu pengalaman belajar, membiarkan segalanya terjadi, menarik diri dari kehidupan.”

Dalam kaitan itu pula, antara lain, quantum learning mengonsep tentang “menata pentas: lingkungan belajar yang tepat.” Penataan lingkungan ditujukan kepada upaya membangun dan mempertahankan sikap positif. Sikap positif merupakan aset penting untuk belajar. Peserta didik quantum dikondisikan ke dalam lingkungan belajar yang optimal baik secara fisik maupun mental. Dengan mengatur lingkungan belajar demikian rupa, para pelajar diharapkan mendapat langkah pertama yang efektif untuk mengatur pengalaman belajar.

Penataan lingkungan belajar ini dibagi dua yaitu: lingkungan mikro dan lingkungan makro. Lingkungan mikro ialah tempat peserta didik melakukan proses belajar (bekerja dan berkreasi). Quantum learning menekankan penataan cahaya, musik, dan desain ruang, karena semua itu dinilai mempengaruhi peserta didik dalam menerima, menyerap, dan mengolah informasi. Ini tampaknya yang menjadi kekuatan orisinalitas quantum learning. Akan tetapi, dalam kaitan pengajaran umumnya di ruang-ruang pendidikan di Indonesia, lebih baik memfokuskan perhatian kepada penataan lingkungan formal dan terstruktur seperti: meja, kursi, tempat khusus, dan tempat belajar yang teratur. Target penataannya ialah menciptakan suasana yang menimbulkan kenyamanan dan rasa santai. Keadaan santai mendorong siswa untuk dapat berkonsentrasi dengan sangat baik dan mampu belajar dengan sangat mudah. Keadaan tegang menghambat aliran darah dan proses otak bekerja serta akhirnya konsentrasi siswa.

Lingkungan makro ialah “dunia yang luas.” Peserta didik diminta untuk menciptakan ruang belajar di masyarakat. Mereka diminta untuk memperluas lingkup pengaruh dan kekuatan pribadi, berinteraksi sosial ke lingkungan masyarakat yang diminatinya. “Semakin siswa berinteraksi dengan lingkungan, semakin mahir mengatasi sistuasi-situasi yang menantang dan semakin mudah Anda mempelajari informasi baru,” tulis Porter. Setiap siswa diminta berhubungan secara aktif dan mendapat rangsangan baru dalam lingkungan masyarakat, agar mereka mendapat pengalaman membangun gudang penyimpanan pengertahuan pribadi. Selain itu, berinteraksi dengan masyarakat juga berarti mengambil peluang-peluang yang akan datang, dan menciptakan peluang jika tidak ada, dengan catatan terlibat aktif di dalam tiap proses interaksi tersebut (untuk belajar lebih banyak mengenai sesuatu). Pada akhirnya, interaksi ini diperlukan untuk mengenalkan siswa kepada kesiapan diri dalam melakukan perubahan. Mereka tidak boleh terbenam dengan situasi status quo yang diciptakan di dalam lingkungan mikro. Mereka diminta untuk melebarkan lingkungan belajar ke arah sesuatu yang baru. Pengalaman mendapatkan sesuatu yang baru akan memperluas “zona aman, nyaman dan merasa dihargai” dari siswa.

5. Manfaat Quantum Learning

· Quantum Learning efektif terhadap peningkatan hasil belajar siswa bila dibandingkan dengan metode ceramah. metode Quantum Learning sebagai salah satu bentuk pencapaian kualitas belajar yang potensial, karena mampu menciptakan belajar menjadi nyaman dan menyenangkan

· quantum learning menciptakan konsep motivasi, langkah-langkah menumbuhkan minat, dan belajar aktif. Membuat simulasi konsep belajar aktif dengan gambaran kegiatan seperti: “belajar apa saja dari setiap situasi, menggunakan apa yang Anda pelajari untuk keuntungan Anda, mengupayakan agar segalanya terlaksana, bersandar pada kehidupan.” Gambaran ini disandingkan dengan konsep belajar pasif yang terdiri dari: “tidak dapat melihat adanya potensi belajar, mengabaikan kesempatan untuk berkembang dari suatu pengalaman belajar, membiarkan segalanya terjadi, menarik diri dari kehidupan.”

About forumkuliah

Dosen, trainer, writer

Posted on February 5, 2009, in Artikel Pelatihan. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Quantum learning itu model cara belajar, yang diarahkan untuk sesuai dengan kepribadian dan sesuai dengan model karakter personal. Misalkan ada seorang memiliki karakter visual, maka baginya belajar akan lebih cepat diserap dengan mengunakan peta-peta informasi berupa gambar, grafik, film, dan segala sesuatu yang bisa langsung di rasakan oleh panca indera mata. sehingga anak didik atau siapapun yang belajar mampu mengingat dan menyerap informasi lebih banyak dalam waktu yang relatif singkat. sehingga anak sebetulkan tidak harus memiliki iQ yang tinggi untuk menjadi cerdas, coba di sesuaikan dengan karakter belajar, pasti akan lebih sempurna.

  2. pagi pak, saya mau tanya tentang quantum learning, sebnarnya quantum learning ini model pembelajaran atau sebuah metode pembelajaran pak ? tolong direspon yah pak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: