Urgensi Soft Skill Bagi Lulusan Perguruan Tinggi

PARA pengguna tenaga kerja kerap mengeluhkan lulusan perguruan tinggi (PT) yang berkualitas setengah hati. Bagaimana tidak kecewa, kalau lulusan yang dicetak ternyata kurang tangguh, tidak jujur, cepat bosan, tidak bisa bekerja teamwork, sampai minim kemampuan berkomunikasi lisan dan menulis laporan dengan baik. Mengapa itu bisa terjadi?

Dalam dunia kerja, komentar tentang kualitas para sarjana semacam, “pintar sih, tapi kok tidak bisa bekerja sama dengan orang lain” atau “jago bikin perancangan, tapi sayangnya tidak bisa meyakinkan ide hebat itu pada orang lain”, atau “baru teken kontrak 1 tahun tapi sudah mundur, kurang tahan banting, nih,”, bukannya tidak jarang telontar. Tentunya hal itu bisa menjadi bahan evaluasi, bukan hanya bagi kampus tertentu, tetapi juga seluruh kampus di tanah air tanpa terkecuali.

Ada kecenderungan apa yang diberikan di bangku kuliah tidak sepenuhnya serasi dengan kebutuhan di lapangan kerja. Sebagian besar menu yang disajikan, boleh dibilang berupa keterampilan keras (hard Skill). Padahal, bukti-bukti menunjukkan penentu kesuksesan justru kebanyakan adalah keahlian yang tergolong lunak (soft skill).

Survei dari National Association of College and Employee (NACE), USA (2002), kepada 457 pemimpin, tentang 20 kualitas penting seorang juara. Hasilnya berturut-turut adalah kemampuan komunikasi, kejujuran/integritas, kemampuan bekerja sama, kemampuan interpersonal, beretika, motivasi/inisiatif, kemampuan beradaptasi, daya analitik, kemampuan komputer, kemampuan berorganisasi, berorientasi pada detail, kepemimpinan, kepercayaan diri, ramah, sopan, bijaksana, indeks prestasi (IP >= 3,00), kreatif, humoris, dan kemampuan berwirausaha.

IP yang kerap dinilai sebagai bukti kehebatan mahasiswa, dalam indikator orang sukses tersebut ternyata menempati posisi hampir buncit, yaitu nomor 17. Nomor-nomor yang menempati peringkat atas, malah kerap disangka syarat basa-basi dalam iklan lowongan kerja. Padahal, kualitas seperti itu benar-benar serius dibutuhkan.

Menurut majalah SWA PLUS edisi 09 Mei 2006, setelah diadakan survei yang melibatkan sejumlah CEO dan pimpinan perusahaan menyatakan bahwa ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki oleh calon karyawan antara lain; (1) Kemampuan Interpersonal yang baik, (2) Mampu bekerja sama, (3) Mempunyai motivasi kerja yang tinggi (4) Bertanggung Jawab, (5) Dapat memformulasikan dan mengatasi masalah dengan baik, (6) Jujur, (7) Ketrampilan menggunakan komputer (8) Mempunyai kepercayaan diri (9) Mempunyai visi ke depan (10) Penguasaan bahasa asing (11) Ketrampilan berkomunikasi (12) Mengetahui pengetahuan manajerial yang baik (12) Loyal (13) Disiplin (14) Profesional (15) Orientasi pada hasil (16) Kemauan belajar tinggi.

Survei ini juga menjadi sebuah hal yang luar biasa dengan menempatkan kemampuan interpersonal dalam posisi teratas sebagai syarat mutlak seorang calon karyawan yang dianggap mampu dan mau bekerja dengan baik. Selain itu, bagi sejumlah CEO, IP bagi mereka merupakan persyaratan administratif umum yang sebenarnya secara standart telah ditetapkan oleh semua perusahaan. Bagi mereka, calon pegawai harus mampu melebur dalam tim, memiliki komunikasi yang baik, mempunyai motivasi kuat untuk mengembangkan diri dan potensi, dan itu bisa didapatkan melalui perilaku yang efektif dalam pembangunan hubungan interpersonal

Pelajaran menarik lain dari penting sebuah penerapan soft skill adalah buku Lesson from The Top karya Neff dan Citrin (1999). Pada tahap pertama, penulis buku itu meminta kepada sekitar 500 orang (CEO dari berbagai perusahaan, LSM, dekan, dan rektor perguruan tinggi) agar menominasikan 50 nama orang yang dianggap tersukses di AS. Mereka antara lain Jack Welch (General Electric), Bill Gates (Microsoft), Andy Grove (Intel), Lou Gerstner (IBM), Michael Dell (Dell Computer), Mike Armstrong (AT&T), John Chambers (Cisco System), dan Frederick Smith (Federal Express).

Tahap berikutnya, penulis buku itu mewawancarai 50 orang terpilih tersebut. Selain memuat hasil wawancara, buku itu juga menampilkan satu bab simpulan yang memuat 10 kiat sukses yang menurut 50 orang tersebut paling penting. Sepuluh kiat sukses itu, kebanyakan menyebutkan pentingnya memiliki keterampilan lunak sebagai syarat sukses di dunia kerja. Mereka juga sepakat, yang paling menentukan kesuksesan bukanlah keterampilan teknis, melainkan kualitas diri yang termasuk dalam kategori soft skills atau keterampilan berhubungan dengan orang lain (people skills).

Sepuluh kiat sukses ke-50 orang sukses tersebut yaitu: Pertama, nafsu. Yakni unsur dalam kecerdasan emosional yang merupakan kiat sukses, yang meliputi gairah atau semangat membara. Kedua, intellegence quotient thinking (IQ). Indikatornya kemampuan menghitung, menganalisis, mendesain, berwawasan, berpengetahuan luas, membuat model, dan kritis. Ketiga, kemampuan berkomunikasi dalam mengembangkan/ membangkitkan diri dan mengembangkan orang lain. Keempat, kesehatan dan energi tinggi, meliputi kemampuan menjaga stamina fisik dan kesehatan organ-organ tubuh. Kelima, kecerdasan spiritual. Kecerdasan itu di AS masih menduduki urutan tinggi dalam mendukung sukses. Kecerdasan spiritual mampu menjawab untuk apa dia hidup, mau ke mana setelah hidup, dan apa yang ditargetkan setelah kehidupan ini. Orang yang mempunyai kecerdasan itu akan berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan dan menyejahterakan orang sebanyak mungkin, bukan justru membuat orang lain menderita. Keenam, kreatif dan inovatif. Ketujuh, rendah hati. Kedelapan, selalu bersikap positif. Kesembilan, hidup dalam keluarga yang harmonis; dan kesepuluh, fokus dan mengerjakan yang benar.

Kesepuluh indikator sukses tersebut merupakan kecerdasan holistik yang harus disiapkan. Tampaknya, nilai spiritualitas dan aspek moral tidak kalah pentingnya, yang terangkum ke dalam delapan soft skills dan dua hard skills (nomor dua dan empat). Jadi, syarat yang harus dipenuhi lebih banyak unsur soft skills.

Samani (2003) mengkaitkan pentingnya skill dalam kehidupan keseharian. Menurutnya, manusia akan selalu dihadapkan pada problema hidup yang harus dipecahkan dengan menggunakan berbagai sarana dan situasi yang dapat dimanfaatkan. Artinya, diperlukan kecakapan (skill) seseorang di manapun ia berada ketika mengarungi kehidupan, baik bekerja atau tidak bekerja dan apapun profesinya. Untuk memecahkan problema kehidupan tersebut diperlukan berbagai pengetahuan dan informasi, tetapi semua itu harus diolah dan diintegrasikan menjadi suatu skema pemikiran yang komprehensif, sehingga dapat digunakan untuk memahami problema yang ada, mencari alternatif-alternatif pemecahan arif dan kreatif, memilih salah satu yang paling cocok, sesuai dengan kondisi masyarakat dan waktu, kemudian melaksanakan alternatif yang dipilih tersebut secara cerdas dan taat asas.

Pengembangan di kampus

Menurut Patrick S. O’Brien dalam bukunya Making College Count, soft skill dapat dikategorikan ke dalam 7 area yang disebut Winning Characteristics, yaitu, communication skills, organizational skills, leadership, logic, effort, group skills, dan ethics. Kemampuan nonteknis yang tidak terlihat wujudnya (intangible) namun sangat diperlukan itu, disebut soft skill. Ke tujuh kemampuan itu sebenarnya secara ideal harus termuat dalam setiap pembelajaran di perguruan tinggi. Misalnya communications skill, dalam proses pembelajaran hal yang paln urgen adalah mencoba untuk membuat mahasiswa menjadi seefektif mungkin mampu mengembangkan kemampuan komunikasinya melalui presentasi tugas, diskusi kelompok, dan perkualiahan dua arah. Apa yang ingin dihasilkan adalah mahasiswa mampu mengkomunikasikan hasil karya dengan baik. Organisazition skill, akan termuat dengan pembangunan kegiatan ekstra kulikuler, pembuatan kelompok studi, dan lain-lain. Dalam hal ini membiasakan mahasiswa untuk mampu berkoordinasi dengan orang lain, mampu bekerja dalam tim, dan melengkapinya sebagai satu kesatuan yang efektif. Masih banyak yang dapat digali dari penerapan dan pembiasaan serta pengembangan soft skill khususnya diperguruan tinggi, untuk mencetak tidak hanya manusia cerdas, namun juga berdaya guna, beretika, profesional serta handal.

Ketidakseimbangan pendidikan di ruang kuliah yang lebih bertumpu pada hard skill, tentu saja perlu segera diatasi, antara lain dengan memberikan bobot lebih kepada pengembangan soft skill. Implementasi soft skill tersebut dapat dilakukan baik melalui kurikulum maupun kegiatan ekstrakurikuler. Lalu bagaimana pengembangannya di kampus-kampus?

Di ranah pendidikan telah banyak Universitas ataupun sekolah tinggi yang menempatkan soft skill sebagai mata kulaih wajib ataupun non kredit. Soft Skill dalam mata kuliah wajib seperti yang telah diterapkan di STMIK Sinus Surakarta dengan mengajarkan mata kuliah Interpersonal Skill. Pendidikan soft skill juga dapat diberikan dalam bentuk non kredit dalam bentuk workshop, yaitu Presentation and Writing Skills dan Book Review

Penerapan atribut soft skill di ruang kelas, misalnya, lebih banyak lagi tugas presentasi, diskusi kelompok, sampai role play. Dengan tujuan, semakin mengasah kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama. Hal ini penting sebagai aplikasi pendidikan yang bukan sekadar bagaimana dosen mengajar dengan baik (teacher centre learning), tapi bagaimana mahasiswa bisa belajar dengan baik (student centre learning). Pengembangan soft skill juga diarahkan pada kegiatan nonakademik. Untuk mendorong mahasiswa aktif dalam kegiatan kemahasiswaan,

Dengan demikian penting kiranya untuk mendiseminasikan soft skill pada para mahasiswa, faktor yang sangat berpengaruh adalah dimulai dari dosen. Untuk itu diperlukan dukungan pelaksanaan pelatihan bagi para dosen supaya mengerti lebih jauh tentang soft skill. “Dosen harus bisa jadi living example. Dari mulai datang tepat waktu, mengoreksi tugas, dsb. Bukan apa-apa, kemampuan presentasi dan menulis mahasiswa masih banyak yang belum bagus. Dosen juga harus bisa melatih mahasiswa supaya asertif, supaya berani membicarakan ide. Fenomena mahasiswa menyontek juga jangan dianggap biasa, ini masuk faktor kejujuran dan etika dalam soft skill. Lihat di Indonesia, korupsi begitu menjamur, karena orang sudah terbiasa tidak jujur sejak masa sekolah,” ungkapnya panjang lebar.

About forumkuliah

Dosen, trainer, writer

Posted on February 19, 2009, in Artikel Pelatihan, Interpersonal skill. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: