Belenggu Mentalitas Dalam Karir & Pelayanan

Selamat Pagi Sahabat, Salam bahagia untuk anda semua.

Pada hari Sabtu (21/2) 2009 kemarin, kebetulan saya mendapatkan amanah untuk menjadi motivator dalam sebuah pelatihan pelayanan prima. Ada perdebatan yang cukup menarik terkait dengan pengelolaan motivasi diri dan tanggungjawab pada lingkungan. Seorang peserta berdiskusi dengan saya “ Pak, saya kebetulan bekerja di lingkungan pemerintahan yang mengharuskan saya untuk selalu patuh pada peraturan, jika tidak patuh atau perilaku kerja saya menyimpang dari kaidah aturan tersebut, maka saya akan terkena hukuman, apa yang harus saya lakukan agar saya bisa menjadi lebih hebat dari pada sekarang, dengan lingkungan tempat saya bekerja.”

Pertanyaan diatas mungkin bisa mewakili sebagian pegawai yang masih merasakan bahwa pribadinya tidak mungkin berkembang pada lingkungan yang sangat kaku dan birokratis. Pribadi di dalam lingkungan tersebut selalu dihantui oleh ketakutan atau bisa juga saya bilang kemalasan untuk berkembang, karena perasaan itu tidak lebih kuat dari lantangnya peraturan demi peraturan yang terngiang dibenaknya setiap hari. Pada saat segalanya telah menjadi kebiasaan maka sebetulnya “jebakan mental” akan membuat anda menjadi pribadi yang selalu sama dan tidak mampu berkembang. Sikap-sikap apatis, acuh tak acuk terhadap perubahan, respon yang negative terhadap pembaharuan, akan semakin melekat karena sebetulnya lingkungan itu telah melebur menjadi anda, yang ternyata cerderung tidak menghendaki perubahan dan lebih suka keadaan yang wajar yang sebetulnya tidak wajar itu.

Pernahkan anda membaca berapa banyak pribadi yang terkurung dalam penjara, namun mampu menghasilkan karya besar. Pramoedya melahirkan karya-karya besarnya dari Pulau Buru. Aidl al-Qarni menulis ‘La Tahzan’-nya di penjara. Antonio Gramsci matang secara intelektual dari penjara ke penjara. Ibnu Taimiyah melahirkan ‘Fatawa’-nya di penjara. Sayyid Qutb menulis Tafsir Fi Dzilal al-Qur’an-nya, juga, di penjara. Fantasti dan luar biasa. Banyak orang yang mampu melepaskan diri dari terkukungan mental dan ruang untuk menjadi merdeka secara pribadi. Lingkungan yang mengekang tidak mampu untuk membuat pribadi yang memiliki pikiran terbuka dan kreatif untuk mengembangkan ide-ide cemerlang yang mampu membuat sebuah perubahan dan cara pandang lingkungan tentang dirinya.

Ada yang harus anda definisikan ulang tentang bagaimana anda seharusnya memiliki konsep diri, bagaimana pribadi anda bisa dikembangkan. Dengan demikian, anda mampu menyingkirkan belenggu-belenggu, dan menjadikan anda kuat secara pribadi. Sebuah buku bagus yang bisa karangan DR. Rheinald Kasali berjudul Re Code Change Your DNA. Dimana pembersihan mentalitas dari keterpurukan lingkungan dan ego pribadi untuk bertahan dengan situasi yang ada, akan mampu dikelola dan dikembangkan melalui cara-cara yang hebat.

Perubahan adalah sesuatu yang sederhana dan alamiah. Kesederhanaan itu terkadang menjadikan setiap pribadi memandang perubahan dengan sebelah mata, tidak penting dan membuang-buang waktu. Padahal jika anda mampu membuat perubahan kecil setiap harinya, maka sebenanrnya anda telah berjalan pada jalur yang benar untuk mewujudkan sebuah hal besar di masa depan. Untuk itu, jangan biarkan keadaan lingkungan anda saat ini menjadikan anda tidak menjadi apapun dimasa depan. Karena jika benar dan anda menikmatinya, pondasi perubahan akan menjadi lebih rumit bagi anda. Perubahan itu alami, dan memang anda hidup dengannya. Tanpa itu, maka sebetulnya tidak akan pernah ada kehidupan.

Sahabat, perubahan itu bisa jadi tidak sederhana. Butuh sebuah kemauan dan daya dukung personalitas yang kuat untuk membuatnya menjadi keniscayaan bagi siapapun. Ketidaksederhanaan ini pula yang menjadikan banyak pribadi memutuskan untuk tetap bertahan ditempat dan menerima apa adanya. Memanjangkan celah kesenjangan antara impian anda dengan tindakan. Jika ini adanya maka sebetulkan penyerahan anda kepada keadaan tidak lebih dari kemauan sadar anda untuk menghilangkan impian itu dari benak anda.

Jerat mentalitas oleh lingkungan ini menjadikan setiap pribadi didalamnya akan memiliki sikap yang sangat terkotakkan. Pertanyaan saya pada anda, apakah senyum harus dimasukkan dalam peraturan sehingga karena anda mau melakukannya, apakah berbicara luwes, simpati, dan memahami kebutuhan pelanggan juga harus diatur, dan dengan itu maka ada paksaan untuk anda untuk melakukannya. Jika itu terjadi, maka sebenarnya tidak ada yang berubah, anda akan tetap menjadi pribadi yang sama, yang lebih berorientasi pada lingkungan yang birokratis itu, daripada berfokus pada pribadi untuk melakukan lebih banyak pada lingkungan sesuai tanggungjawab dan amanah yang diberikan. Sukses untuk anda….!

About forumkuliah

Dosen, trainer, writer

Posted on February 23, 2009, in Artikel Pelatihan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: