“If nothing ever changed, there’d be no butterflies”

Life As Butterfly

Minto merasa tidak ada yang berubah dalam hidupnya. Dia tetap saja seorang tukang batu dan buruh serabutan yang berpenghasilan 15 ribu setiap harinya. Meski telah mencoba untuk bekerja lebih keras, lebih ulet, namun sepertinya nasib tetap saja menghendaki hal yang sama atas dirinya. Pun dia juga telah banyak rajin yang surau di seberang kampong untuk menyampaikan keluh kesahnya pada sang pencipta. Tetapi, Minto merasa apa yang telah dilakukannya sampai saa ini tidak membawa angina perubahan, walaupun cuma sejengkal tanah. Kondisi ini membuat Minto menjadi sedikit jengah dengan apa yang dia alami. Kejengahan ini pula yang membuat Minto belum memilih untuk berkeluarga, sebab dia berpikir dalam hatinya, jika aku seperti ini, maka apa yang akan terjadi dengan anak dan istriku kelak. Pasti akan lebih buruk keadaannnya. Dia mulai berfikir bahwa mengapa harus bekerja keras dan berdoa, jika hasilnya akan tetap sama. Mengapa harus mencari kemakmuran jika apa yang sedang akau kerjakan hanya untuk diriku sendiri. Minto mulai merasa bahwa dengan umurnya yang mendekati 40 ini hal terbaik yang bisa dia kerjakan adalah menikmati apa yang peroleh, tanpa harus mencoba untuk merubah nasibnya. Tubuhnya yang semula kekar dan nampak gagah, kini lambat laun mulai kurus dan tak terurus. Sarung dan sajadah yang biasa dia bawa ke surau, telah menerima nasib buruk dijadikan penambal rumahnya yang mulai doyong terkena terpaan cuaca. Minto nampak lebih tua dari umurnya, rambutnya telah mulai memutih, dan jalannya telah nampak sempoyongan. Beberapa teman sempat khawatir atas apa yang menimpa minto, sebab mereka tahu Minto temannya dulu, telah mulai berubah menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Tetapi apakah minto peduli dengan semua itu, jika pikirang dan hatinya telah mulai mantap mengatakan. Tidak akan ada yang berubah dengan diriku dan kehidupanku. Setelah berhari-hari tidak nampak oleh teman-temannya sesama buruh, Minto yang telah tanpa daya tergeletak tak berdaya di rumah gubugnya tak lagi mampu mendengar apa yang diucapkan oleh teman-teman yang saat itu dating menjenguknya. Minto hanya tahu mereka datang untuk membantu dan memberinya semangat untuk tetap bertahan. Tentu itulah hal terakhir yang diarasakannya. Dia merasa sangat letih, penat, tetapi ada yang membuat dirinya merasa lebih menyesal. Ternyata ada yang berubah dalam dirinya, dan untuk menjadi lebih buruk adalah bukan sebuah pilihan yang tepat.

”Pun ulat memiliki pilihan, untuk menjadi lebih indah dengan menjadi kupu-kupu atau menjadi tetap menikmati sisa hidupnya untuk tetap menjadi ulat dan mati.”

Ada banyak hal di dunia ini yang ternyata luput dari indera kita sebagai manusia. Meski hal itu sangat dekat dan begitu dekat dengan anda dan saya. Misalnya kematian yang dapat datang sewantu-waktu. Tetapi tidak banyak manusia yang menyadari hal tersebut. Apa yang mereka pikirkan adalah bahwa manusia secara alami mampu hidup dalam kisaran umur 60 tahunan. Untuk itu ada yang sangat terkejut bila ada diantara mereka yang meninggal dalam kondisi umur yang masih dini. Sederhana saja, anda bahkan mungkin tidak tahu bahwa rambut anda itu memanjang setiap harinya, berapa banyak darah anda itu mengalami siklus dalam tubuh anda, dan sebagainya. Ketidaktahuan ini yang menjadikan setiap pribadi terkadang menjadi terlalu naïf untuk tidak ingin menjadi sesuatu yang lain. Malas untuk mampu melihat bagaimana dia berproses untuk menjadi sesuatu yang tentu saja memberikan keuntungan bagi eksistensi dirinya dan lingkungan.

Perubahan itu akan selalu terjadi. Anda dan sayapun meyakini hal itu dengan sangat baik. Tentu ini adalah modal paling berharga untuk mencapai sesuatu di depan. Dibalik semua itu, perubahan tentu adalah sebuah pilihan. Dimana pilihan itu yang akan mengerakkan seorang pribadi untuk mampu membuat dirinya seperti apa yang dia pikirkan. Kesadaran akan pencapaian adalah begitu penting untuk membuat sebuah pilihan, sebab adalah untuk menjadi tetap berdiri ditempat yang sama dan tidak ada pencapaian itupun adalah sebuah pilihan, dan pilihan selalu memiliki konsekuensi perubahan baik itu menjadi lebih baik atau sebaliknnya terpuruk lebih dalam, dan berakhir dengan penyesalan.

Ada banyak pribadi yang meyakini bahwa apa yang telah ada saat ini mungkin adalah batas dari pencapaiannya. Sehingga dia mulai untuk berhenti menetapkan apa yang ingin diraih dan mencukupkan apa yang telah dia dapat untuk saat ini. Dalam hal ini berarti seorang pribadi telah menentukan pilihan. Meskipun dia mmerasa bahwa semua telah cukup, selesai dan tidak berubah. Tetapi apa yang telah digariskan oleh alam tetap saja menjalani rutinitasnya dengan pasti. Perubahan itu akan tetap terjadi, meskipun anda tidur atau tidak melakukan aktifitas apapun. Bisa jadi jika anda meyakini bahwa tidak ada yang berubah, mungkin saja anda belun tahu atau tidak mau tahu atas apa yang terjadi disekitar anda.

”Perubahan selalu meninggalkan kesedihan atas kesenangan lama, untuk mendapatkan kesenangan atas kesedihan yang baru”

Ada banyak hal yang menyenangkan yang mungkin tidak ingin anda hilangkan. Hal tersebut benar-benar membuat anda merasa nyaman dengan situasi saat ini. Sehingga enggan untuk meninggalkannya. Andapun berkata ”jika saya telah mendapatkan hal paling menyenangkan dalam hidup saya, apalagi yang harus saya impikan…” toh impian itupun belum tentu memberikan kebahagiaan dan kesenangan yang saat ini saya rasakan”. Untuk semua yang membuat anda senangpun, anda rela untuk berhenti bermimpi dan membuat harapan.

Seperti halnya saat anda beranjak dewasa dan memiliki tanggungjawab lebih, anda pasti tidak selalu senang meninggalkan kebiasaan lama anak-anak yang selama ini telah memberikan kebahagiaan bagi anda. Anda tetap saja ingin menjadi anak-anak dengan bertingkah laku konyol, bicara semaunya, selalu berlindung dari tanggungjawab, dan memiliki kebebasan yang seolah-oleh tanpa batas. Namun saat menemukan kehidupan dewasa, anda merasa hal tersebut menjadi seakan tidak lagi wajar, yang tidak wajar berarti penuh dengan ketidakpastian, dan yang tidak pasti tentu tidak menyenangkan. Untuk itulah tidak sedikit orang dewasa yang masih memiliki ego anak-anak, sebab secara psikologis dia enggan untuk melepaskannya.

”Besarnya pengorbanan, tergantung seberapa besar perubahan yang anda inginkan. Tetapi setelah perubahan terjadi entah apakah itu tetap anda sebut pengorbanan atau kewajaran”

Cerita Minto diatas telah memberikan sebuah pertanyaan yang cukup serius bagi anda dan saya. Seberapa besar pengorbanan yang harus anda berikan atas perubahan yang anda inginkan. Tentu ini menjadi sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh anda yang menginginkan seberapa besar perubahan itu. Andai saja hal itu bisa dihitung secara matematis mungkin akan lebih kita menakar untuk dan ruginya kita melakukan sebuah perubahan. Dan hal tersebut memungkinkan untuk dilakukan. Dengan beberapa cara kita mampu untuk menghitung harga yang seharusnya kita keluarkan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Tentu jika anda memiliki pemahaman yang baik tentang apa yang ingin dirubah atau dicapai. Meskipun memang semua cara tersebut hanya sebuah prediksi dan bukan merupakan sebuah hal yang pasti.

Kesulitan untuk menentukan pengorbanan ini tentu akan menjadi semakin sulit untuk ditakar saat anda sendiri tidak memahami apa sebenarnya yang ingin anda capai atau perubahan seperti apa yang anda inginkan. Contoh sederhana, semua orang ingin menjadi kaya, namun ternyata ada banyak varian tentang menjadi kaya. Kaya dengan banyan hutang, kaya dengan kejahatan, kaya dengan kehilangan keluarga, kaya persahabatan, atau hanya sekedar banyak duit. Sebab tentu saja banyak duitpun belum tentu membuat seseorang merasa kaya. Untuk itu maka perlu di deskripsikan dengan lebih jelas agar andapun mampu memberikan jawaban tentang seberapa besar pengorbannya.

Minto adalah seorang dari jutaan lainnya yang tidak pernah tahu apa yang ingin diraihnya di masa depan. Dia hanya tahu bahwa dia ingin terlepas dari kelaparan, kesengsaraan, dan hujaman celaan dari lingkungannya. Dia hanya tahu bahwa dia telah banyak berkorban, tanpa tahu apakah hal itu cukup atau tidak. Saat seseorang telah merasa bahwa apa yang dikorbankannya telah cukup banyak bahkan sangat banyak, namun yang menjadi pilihan perubahan tidak segera terealisasikan, maka bisa jadi dia akan kehilangan asa dan berhenti berkorban, dan mulai mengorbankan dirinya dan masa depannya.

Ada pula pribadi yang telah percaya bahwa tidak ada lagi sesuatu dalam dirinya yang bisa dikorbankan. Dia hanya menerima saya apa kata nasib tanpa tahu apa yang akan terjadi. Jika ini yang terjadi maka akan banyak pribadi yang akan tetap terpuruk dalam kehidupannya. Semuanya bermetamorphosis namun apakah itu adalah sebuah perubahan yang diinginkan atau hanya sekedar memenuhi pemberian alam yang tentu akan menentukan perbedaan antara pribadi satu dengan yang lainnya. Anda akan meyakini hal itu, sebab ada banyak pribadi yang mampu melihat bahwa dirinya adalah pengorbaban terbesar atas suksesnya. Dan saat seseorang itu menemui pilihannya, pengorbanan akan menjadi sebuah kewajaran.

”Setiap manusia berhak untuk mendapatkan sinar matahari, udara segar, dan air yang sejuk. Tergantung sebera cepat, seberapa kuat, dan seberapa tinggi kekuatan dalam dirinya itu mampu bergerak ke arah yang memiliki kualitas baik”

About forumkuliah

Dosen, trainer, writer

Posted on August 16, 2010, in Artikel Motivasi. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: