”Bukan Mereka Tapi anda”

Not Them But You

Andreas masih tersandar di kursi goyangnya kesayangannya. Kursi inilah yang masih setia menjaga agar punggungnya tetap tegak dan tidak terkulai lemas. Senyumnya yang selalu ramah pada semua orang, saat ini agak sedikit pudar dengan sorot matanya yang kosong. Sesekali telinganya mendengat Hpnya bergetar namun dia tidak segera beranjak menjawab telp atau sms yang masuk. Baginya suara itu, seperti gedung WTC yang baru saja ditabrak oleh pesawat teroris pada 11 September silam. Adreas dikenal teman-temannya sebagai seorang konsultan keluarga yang sukses. Sikapnya yang luwes dan komunikatif membuat Andreas mampu masuk dalam beragam pergaulan dan diterima dengan baik. Tidak salah jika kemudian Andreas begitu dikenal dan banyak yang mempercayakan masalah keluarga mereka. Sebelum hari ini, semuanya nampak baik-baik saja bagi Andreas. Dia merasa sebagai orang yang beruntung, dengan karirnya yang dibutuhkan oleh banyak orang. Kekayaan, bisnis yang sesuai, peruntungan yang baik serta teman-teman yang selalu setia meneleponnya untuk mengajaknya makan siang. Tentu hal itu disadarinya sebagai bentuk sukses yang benar-benar dia inginkan. Namun, entah mengapa hari ini Andreas tidak benar-benar tahu pasti apakah keadaannya sekarang yang memang dia inginkan.

Hari itu sepulang dari Makasar, Andreas menemukan rumahnya dalam keadaan kosong. Istri dan anaknya tidak berada di rumah. Dia pikir mereka keluar rumah untuk sekedar belanja, sebab mereka telah terbiasa pergi tanpa dirinya. Untuk itu dia memutuskan untuk beristirahat, melepas kepenatan. Saat dia bangun dan melihat jam, Andreas sadar bahwa ia begitu lelah sehingga sampai tertidur lebih dari enam jam. Dia berfikir, bahwa istri dan anaknya mungkin telah kembali. Tetapi, Andreas tetap menemukan rumahnya dalam keadaan sunyi.

Segera Andreas mencoba menghubungi istrinya, sampai dia menemukan sebuah surat yang tersadar di vas bunga, dekat meja telephon. Andreas mulai membaca dengar rasa gusar dan sedikit marah. ”Apa lagi ini, kok pake acara surat-suratan segala. Apa mereka tidak berfikir aku yang lelah ini setelah pergi keluar kota. Dasar egois!!”

Adreas mulai membaca suratnya

”Kepada yang terkasih papa pahlawan hati & jiwa kami

Papa, mungkin akan marah saat akan membaca surat ini, sebab mama takmungkin menyiapkan nasi goreng telur favorit papa. Ayyapun tak lagi kuasa menyediakan koran dan majalah berita olahraga untuk papa. Tapi papa tidak usah khawatir, jas coklat dan baju bergaris kuning telah mama gantung wangi di lemari kamar. Meski kami berdua sadar, papa akan tetap mampu melakukan hal sederhana itu tanpa kami.

Papa, kami berdua sadar apa yang kami penuhkan pada papa, mungkin jauh dari kesempurnaan. Tapi yakinlah, bahwa ketulusan kami lebih dari itu. Kami adalah orang lain, bukan papa. Meskipun nafas yang kami masukkan pada darah kami, telah tercampur dalam ikatan keluarga. Tetap saja kami bukan papa. Papa terlalu sempurna, kami terlalu sederhana.

Lima tahun kebersamaan ini bagi saya terlalu sempurna. Tapi saya merasa kurang pantas menerima kesempurnaan itu, dari seorang suami yang begitu baik. Saya sadar, apa yang kami miliki ini semuanya sebagian besar dari papa.

Papa kami baik-baik saja. Mungkin perpisahan sementara ini adalah hal terbaik yang mungkin bisa kita lakukan.

Saya akan selalu rindu kebersamaan kita

Ayya aka rindu ciuman papa

Salam hanya dari kami

Mama & Ayya.

Adreas adalah contoh ideal dari seorang profesional yang sukses. Seseorang yang mampu melakukan sebuah pencapaian yang luar biasa dalam karir dan hidupnya. Andreas adalah Andreas. Yang tetap manusia biasa, yang mungkin saja tak pernah dia pikirkan sebelumnya. Sebagai manusia, maka sebetulnya dia juga memiliki ruh yang unik. Inilah keajaibannya, bahwa sebagai pribadi manusia diciptakan secara berbeda.

Tugas utama pribadi adalah menemukan keutamaannya sebagai individu. Dan saat keutamaan itu mampu dilihat dengan baik, maka pribadi akan lebih mudah melihat keutamaan orang lain.

Sebagai seorang konsultan, Andreas lebih banyak melihat keluar dirinya untuk memastikan ara kolega, teman dan keluarganya mendapatkan kebutuhan yang mereka inginkan. Disaat sepertinya dia tahu segalanya, dan menyelesaiakan banyak persoalan, disaat itulah dia tidak sama sekali mampu menemukan apa yang dia inginkan. Yang ada dalam perspektifnya, saat mereka puas dengan apa yang dilakukankan semua menjadi tercukupkan, dan Andreas mendapatkan apa yang dia inginkan. Seolah-olah Andreas telah membuat ”sesuatu yang benar”.

Saat orientasi kepribadian manusia itu lebih keluar, maka nilai-nilai dari luar akan mudah terserap. Dengannya kemudian segala tindakan anda diatur dan digerakkan. Saat nilai itu semakin sering digunakan, maka nilai itu kan terinternalisasi dengan sangat maksimal pada diri seseorang. Oleh sebab itu, terkadang mengapa pribadi tidak memiliki karakter kuat yang mampu merepresentasikan dirinya dengan  lebih konkrit.

Pribadi yang tidak memiliki karakter yang kuat, maka sebetulnya dia akan lebih mudah digerakkan oleh keinginan yang bukan dari dirinya. Meskipun terlihat baik di mata orang lain. Penting antinya sebai pribadi anda harus melihat sesuatu yang benar itu dengan cara-cara yang tepat dan seimbang. Andreas merasa apa yang dia berikan pada kliennya, juga tepat untuk keluarganya. Tentu saja tidak. Setiap interaksi memiliki seni dan kekhasan. Apa yang diinginkan keluarganya adalah Andreas dan bukan seorang profesional sukses dengan jadwal padat. Saat keluarga telah ”kehilangan” Andreas, maka penting artinya mereka menemukannya kembali. Saat semuanya berjalan dengan tidak seimbang, maka penting artinya untuk menghentikan sementara sebuah interaksi dan memikirkan ulang tentang diri bukan mereka. Dan itulah yang dilakukan oleh keluarga Andreas.

”Sesuatu akan menjadi  benar saat pribadi yang mampu melihat potensi & karakter dirinya untuk melengkapi lingkungan, tapi tidak merubahnya serta melihat lingkungan sebagai potensi yang untuk mencukupkan dan bukan untuk ditaklukan dan kemudian dimiliki”

About forumkuliah

Dosen, trainer, writer

Posted on August 16, 2010, in Artikel Motivasi. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: